Dan Berbahagialah

Kecemasan itu menular, begitupun dengan rasa putus asa dan kemarahan. Rasakanlah apa yang kita alami ketika berada di tengah orang-orang yang sedang menangis, mendadak dada terasa sesak dan air mata mengucur deras. begitupun pada saat berada di tengah orang-orang yang cemas, secara perlahan kita akan dipenuhi oleh kecemasan yang sama.

 

Awalnya tidak terasa, kita hanya mendengar orang-orang yang mengeluh. Saat itu, kita menganggap apa yang dikeluhkannya itu hal yang konyol. Esoknya kita bertemu dengan orang yang mengeluh juga. Esoknya lagi, kita bertemu dengan keluhan yang sama. begitu setiap hari kita bertemu dengan orang yang, saat itu pikiran kita jadi terganggu dan mengikuti cara pikir orang kebanyakan.

 

Menghindarlah dari penyakit kecemasan, walaupun saat ini, di negeri banyak terdapat berita bunuh diri atau membunuh yang lainnya oleh keluarga sendiri banyak kita temukan. Berlindunglah kepada Allah agar DIA dapat menuntun kita menemukan pilihan yang dapat menyelamatkan dan membahagiakan. Apabila kita terus menerus memelihara kecemasan, apa pun yang kita dapatkan akan hancur berantakan.  

 

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram; rezekinya datang kepadanya berlimpah-limpah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. (Q.S An.Nhl, 112)”

 

Hidup membawa kesempatan, dan dari kesempatan ini muncullah pertumbuhan. Bagi beberapa orang, “kesempatan” terlihat sebagai masalah, bukan sebagai balok penyusun pertumbuhan. perubahan dapat disambut atau pun ditolak, pilihannya ada pada diri kita. Ketika kehidupan memunculkan setiap kesempatan sebagai sebuah tantangan seraya menemukan kekayaan yang mungkin termuat di dalamnya.

 

“Jika kita memilih untuk merangkul rasa takut dan berhadapan muka dengannya sambil mencari keuntungan dan kesempatan atas pertumbuhan yang mungkin ditawarkannya, itu akan membantu kita menjadi pribadi yang positif dan tegas yang kita inginkan. Sebaliknya, jika kita memilih untuk menutup mata dari rasa sakit, itu berarti kita memilih untuk menajlani hidup sebagai orang yang tak utuh, yang akhirnya menutup diri dari semua emosi positif. dengan hidup sebagai “setengah orang”, kita cenderung terus mengisi setengah bagiannya itu dengan kesenangan, yang hanya membawa kelegaan sementara dan kepuasan yang cepat hilang”.

 

Dunia luar bukanlah musuh yang ingin membuat kita sengsara. Sebaliknya, dunia membantu kita membangun lebih jauh kapasitas untuk mencintai dengan menyediakan kesempatan atas pencerahan dan perubahan. Kita-lah yang menyengsarakan diri sendiri dengan tetap terbenam dalam semua masalah atau dengan tetap hidup di sudut gelap, dan terus mengeluh tentang kehidupan kita. Sebaliknya, kita dapat mengatasi itu semua dengan berjuang mengalahkan kesulitan yang kita hadapi, merangkul rasa sakit, dan bergerak menuju mercusuar penerimaan dan pertumbuhan pribadi.

What do you think a bout

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s