KONTRIBUSI KELUARGA DALAM PEMERDAYAAN MASYARAKAT MUSLIM

Memformat Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Sebagai Lembaga Pendidikan Agama yang Visioner

 

Abstark: pendidikan agama (penanaman aqidah) yang diberikan kepada anak harus dmula sejak dini. Pendidkan tersebut harus konsisten. Artinya apa yang diberikan kepada anak di lingkungan keluarga yang sudah dimulai sejak sang anak masih dalam bentuk janin harus sama (satu visi) dengan apa yang diberikan kepadanya di sekolah dan masyarakat. Orentasi filosofi dan visi pendidikan agama yang diberiakan kepada anak di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat memuat flosofi yang sama yaitu berorientasi pada kalimat tauhid (Laa ilahaa ilallah). Tulisan ini akan memaparkan institusi keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai lembaga pendidikan dalam konteks pendidikan agama anak.

Pendidikan agama anak, menurut islam, harus dilakukan sejak janin masih berada dalam kandungan bahkan dimulai sejak proses mencari pasanagn (suami isteri ).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori  Muslim disinyalir bahwa Rasulullah saw bersabda ( yang isinya menyatakan):”perempuan itu dinikahi karena empat alasan; hartanya, kedudukannya, kecantikannya, agamanya. Hendak engkau memilih alasan karena agama, niscaya engkau bahagia”. Fadzfar bizaati- ddin (hendaklah kamu memilih dengan alasan agama).

Beragam yang dimaksud oleh hadits ini sudah tentu beragam yang  intrinsik (refleksi dari kondisi hati). Cara beragam interinsik memandang agama sebagai”comprehensive commitmen dan driving integrating motive”(jalaludin ahmad, 1986:5), yang mengatur seluruh hidup seseorang. Cara beragam sepert inilah yang harus dipilih,bukan yang cantik dan kaya raya tapu rawan iman.

Setelah menikah denagn pasangan ideal seperti dimaksud di atas kemudian orang tua diwajibkan memelihara kehamlan (rajin sholat, membaca al-Quran, mendawamkan do’a dan dzikir), mengkonsumsi makanan yang halal(bak jenis maupun cara mendapatkanya).

Setelah lahir, anak diadzankan dan diikomahkan serta diber nama yang baik.artnya kalimat yang pertamakali harus masuk ketel[inga sang baik adalah lafadzul jalalah(laa ilaaha ilallah) bukan suara merdu Evi Tamala. Selanjutnya orang tua diminta untuk membayar aqiqah, dikhtan. Usia 7 (tujuh) tahun diajak sholat dan ketika memasuki usia 10 tahun frekuensi dan kafasitas sholatnya mulai diintensipkan. Inlah contoh pendidikan agama anak sedini mungkin.

Visi pendidikan agama dimaksud di atas harus berlanjut terus hingga ruh terpisah dari badan. Artinya konsep tauhid”laa illaaha illallah ” tertanam dihatin anak manusia hingga mewarnai seluruh hidup dan kehidupanya. Untuk itu diperlukan pendidkan yang ntergral baik dari orang tua atau keluarga, sekolah maupun masyarakat.

 

A.Pendidikan Agamadi Lingkungan Keluraga

Keluarga adalah susunan paling bawah dari keseluruhan institusi suatu negara yang di dalamnya terdapt indivdu-indipdu dengan posisi dan kedudukanya masing-masing. Keluarga yang dimaksud di sini adalah keluarga dalam pengertian kelompok kecil masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak serta orang lainya(misalnya anak angkat) yang tngal bersama-sama dalam satu rumah dan hubungan mereka  berakar pada jalinan rasa cinta kasih.

Kelurga dalam pengertian di atas, di lihat dari keseluruhan kelembagaan suatu negara memang berada pada kerangka paling bawah. Tetapi dilhat dari fungsinya sebagai pelaksanaan pendidikan yang pertama (awal) bagi angotanya(Baca: anak-anak), maka keluarga ini merupakan insttusi social yang saling menentukan baik bagi masa depan dengan bangsa maupun anak-anak itu sendir kelak dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam kaitan ini, Willam.J Goode(1985:16) menyatakan bahwa :”pada saat sebuah lembaga

mulai membentuk kepribadian seseorang dalam persoalan penting, keluarganya tentu banyak berperan dalam persoalan itu, dengan mengajarnya kemampuan berbicara dan banyak fungsi sosial”.

Dilihat dari aspek fungsi, seperti yang dimaksud pada penjelasan di atas, tampak jelas bahwa keluarga merupakan sebuah jaringan sosial yang sangat menentukan. Mengapa? Karena, menurut(yunani nasotion,1977:14) “keadaan suatu masyarakat tergantung pada keadaan keluarga, keadaan keluarga itu tercermin dalam kehidupan masyarakat yang diperolehnya di lingkungan keluarga sebagai anggota keluarga”.

Selanjutnya dalam buku Patologi Sosial, Kartini Kartono(1986:26) menyatakan:”kurang lebih 90% dari jumlah anak-anak delinkuen bersal dari keluarga berantakan (broken home). Kondsi keluarga yang tidak bahagia dan tidak beruntung jelas membuahkan masalah psikologs personal dan adjustment (penyesuaian diri)  yang terggangu pada diri anak “dalam kajumbulianya tentang mental disorder, kartini kartono (1988:281) menyatakan “eluarga itu merupakan lembaga pertama dan paling utama untuk memanusiakan dan mensosialisasikan anak manusia. Di sinilah (di dalam keluarga) anak belajar melakukan adaptasi terhadap lingkungan sosial, mengenali aturan-aturan hidup dan norma-norma susila tertentu. Di tengah-tengah keluarga itulah anak mendapatkan cinta kasih, bimbingan dan perlindungan. Melalui pemahaman ini anak  mulai mengerti simpati,kasih sayang, solidaritas, loyalitas keluarga yang murni. Dan tumbulah sosialitas sejati”.

Satu hal yang sangat penting yang tidak boleh dilupakan adalah keteladanan orang tua dalam mengemudikan roda rumah tangga keluarga. Hasan Langgulung(1985:51) dalam hal ini menyatakan bahwa”proses sosialisasi berlaku sejak kanak-kanak masih bayi. Dalam masa itu agen sosialisasi satu-satunya adalah  ibu bapak. Apa yang diatakan, dibuat, atau dilarang oleh orang tua akan diturut si anak dengan segala senang hati. Tetapi kalau si anak memperhatikan ada pertentangan antara tingka laku orang tuanya, maka si anak akan menjadi bingung, yang menjadi sebab si anak mambantah dan mendurhakai orang tuany. Misalnya, si ayah menyuruh anak sembahyang sementara si ayah sendiri tidak sembayang.

Jadi sebenarnya jika orang tua menginginkan cara hidup anak –anak mereka tidak bertentangan dengan norma agama. Maka yang diinginkan tersebut dapat dilakukan dengan cara membiasakan mereka terhadap apa yang kita ingini tersebut. Misalnya ucapan salam, hal ini dapat dikomunikasikan dengan anak melalui pergaulan sehari-hari dalam rumah tangga atau di lingkungan keluarga. Contoh lain misalnya pelaksanaan sholat berjama’ah dengan anak-anak. Sholat yang dikerjakan bersama-sama seperti itu akan lebih efektif dari pada anak hanya dijejali dengan perintah-perintah tanpa ada contoh tauladan dari pihak orang tua.

Visi mewujudkan anak-anak yang sholeh dan sholehah harus dirumuskan oleh kedua orang tua sejak anak itu sendiri belum terlahir kedunia. Dari visi orang tua akan menjadikan rumah tangganya tidak hanya sebagai satu keluarga baru tetapi juga menjadi satu lembaga pendidikan baru yang siap untuk mencetak generasi umat yang siap menjawab tantangan zaman. Orang tua yang visioner adalah orang tua yang menyiapkan k yang jelas dan terukur yang pada giliranya anak tersebut akan muncul sebagai subjek dari perubahan sosial dan budaya. Bukan menjadi objek dari satu perubahan sosial dan budaya.

 

B. Pendidikan Agama di Sekolah

Sekolah dilihat  dari posisinya sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peluang sangat besar dalam pembinaan dan penanaman nilai-nilai keagamaan (islam) yang pelaksanaanya melibatkan seluruh guru dan karyawan yang bertugas di seolah tersebut. Athiyah al-abrasyi (1970:1) sehubungan dengan partisipasi dimaksud di atas menyatakan bahwa”semua guru, semua yang bertugas menyampaikan mata pelajaran haruslah terlebih dahulu memperhatikan akhlak”. Ini berarti, penanaman nilai keagamaan kepada siswa bukan hanya tanggung jawab guru mata pelajaran agama islam semata.

Secara implisit, ungkapan Athiyah di atas mengisyaratkan bahwa guru harus memperhatikan akhlak atau sikap keagaman anak sebelum memberikan hal-hal yang berkenaan dengan mata pelajaran dan kegiatan belajar mengajar itu sendiri. Kendatipun ada penanggung jawab utama atau guru yang memegang peranan sentral bagi terlaksananya pembinaan sikap keaamaan (akhlak), yaitu guru agama (guru mata pelajaran pendidian agama islam). Oleh karena itu, menurut Fuad Ihsan (2003:147), “kerja sama secara terpadu dari semua unsur di lembaga pendidikan ini merupaan kunci kesuksesan pendidikan agama di sekolah”. Dan ini sudah terlaksana sejak anak berada ditingkat pendidikan paling dasar (Sekolah Dasar) yang nanti akan terjadi pengembanganya di tingkat sekolah lanjut.jika di Sekolah Dasar anak sudah dibiasakan dengan hidup bersih, tertib dan jujur maka di pendidikan tingkat lanjutan hal itu aan dikembangan sehinga tumbuh menjadi suatu kepribadian.

Jadi, guru (apapun mata pewlajaran yang dipegangnya) dituntun untuk berpartisipasi membentuk sikap keagam  tangung jawab anak yang baik pada siswa dalam setiap melasanakan kegiatan belajar mengajar. Atau partisipasi tersebut paling tidak dapat dilakukan dengan cara memberikan dukungan penuh bagi terselenggaranya proses pendidikan agama. Djamas (dalam Nawawi Nurdin 2004:38) menyatakan bahwa”bahwa semua civitas akademis berkewajiban untuk melaukan transformasi dan internalisasi nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik”. Sehubung dengan itu, Waliono (dalam nawawi nurdin) menyatakan bahwa”para guru dibawah tanggung jawab kepalah sekolah berkewajiban meningkatkan suasana keagamaan di sekolah”. Selanjutnya Mansur Isna (2001:57) menegaskan bahwa”pendidikan  islam merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dari system pendidikan islam yang berfungsi sangat strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai islam dalam berbagai disiplin yang dipelajari oleh subjek didik”.

Upayah lain yang dapat dilakukan agar sekolah dapat menghasilkan siswa-siswi yang berakhlak mulia atau memiliki sikap keagamaan yang baik adalah sebagai berikut:

  1. menyelenggarakan pendidikan agama secara intensip dimana antara teori dan praktek dapat dirasakan oleh anak secarah langsung.
  2. segalah sesuatu yang berhubungan dengan pendidikan denagn pengajaran hendanya dapat membawa anak didik kepada pembinaan mental.
  3. pelajaran-pelajaran keseniaan, olah raga dan rekreasi harus mengindahkan nilai-nilai agama.
  4. guru hendaknya memperhatikan dan membimbing pergaulan ana-anak di lingkungan sekolah. (Zakiah Derdjad, 1994:34).

 

Item-item yang dikemukakan oleh Zakiah Daradjat di atas mempertegas bahwa

guru-guru di sekolah tidak cukup hanya melakukan pekerjaan mengajar atau mentransfer ilmu pengetehuan kepada anak-anak tetapi seiring dengan itu juga harus melakukan penanaman nilai dan membentuk kepribadian muslim.

Untuk keperluan ini, layanan belajar pendidikan agama islam di sekolah harus relevan dengan visi membentuk kepribadian musdlim. Apa yang menjadi kebutuan siswa dalam konteks membentuk kepribadian muslim harus terlayani secara maksimal. Layanan belajar tersebut antar lain tersedianya guru yang qualified, tersedianya perpustakaan atau buu-buku yang memadai, tersedianya lingkungan yang relevan, tersedianya fasilitas yang mendukung terwujudnya kepribadian muslim, bukan saja  dalam fisik seperti musholla atau masjid tetapi juga konsultasi agama atau pembimbingan rohani(rohaniawan).

Demikian peran dan partisipasi yang dapat dilakukan seolah (guru dan karyawan secara umum) dalam pembinaan sikap keagamaan siswa. Bukan hanya guru agama atau guru di kelas tertentu tetapi harus melibatkan semua pihak. Kebijakan sekolah harus mendukung terlaksananya program pembinaan yang dimaksud.

 

C. Pendidikan Agama di Masyarakat

Pendidikan agama yang sudah ditata di lingkungan keluarga dan sekolah tidak akan banyak artinya jika tidak diikuti oleh pendidikan agama di lingkungan masyarakat. Dengan kata lain harus ada kesatuan visi, misi dan komitmen antar keluarga, sekolah dan masyarakat. Beranjak dari dasar pemikiran ini maka Muhammad Qurub (1984:392) mensinyallir bahwa”sesuatu yang logis yang harus ada dalam metodologi pendidikan islam adalah tersedianya suatu masyarakat islam”.

Masyarakat islam yang dimaksud di atas merupakan satu tuntunan yang tidak mudah untuk dipenuhi, apalagi jika dihubungkan dengan kehidupan sosial budaya anak-anak dewasa in yang sudah teradiasi oleh arus globalsasi informasi. Nilai pendidikan islam yang sudah diberikan orang tua dan sekolah kepada anak mngkin saja menjadi bisa bahkan hilang sama sekali manakalah anak tersebut berinteraksi dengan kelompok atau individu- individu lain dalam masyarakat yanf heterogen.

Demikian pendidikan agama yang integral antar keluarga, sekolah dan masyarakat. Integral dalam visi, misi dan komitmen hingga dapat mewujukan ggenerasi mudah muslim yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia.

 

D Penutup

Pada akhirnya pembinaan atau pendidikan agama anak dalam rangka menghadapi dekadensi moral era millennium merupakan tanggung jawab orang tua selaku murobbi guna mewujukan generasi ideal yang dicita-citakan. Anak bukan sekedar penyambung keturunan akan tetapi anak merupakan amanah yang dititipkan Allah SWT. Kepada kita untuk dibina dan diarahkan sehingga dapat menjalankan kedudukan dan tugasnya khalifatullah fil ardh (duta Allah di muka bumi). Selanjudnya orang tua yang bijaksana sudah tentu akan memiliki institusi pendidikan dan tempat bergaul yang tidak bertentangan dengan apa yang telah ia  tanamkan di lingkungan keluarga. Artinay apa yang telah ditanamkan oleh orang tua pada ana di lingkungan keluarga harus berlanjut terus hingga mereka berada di sekolah dan masyarakat

Orang tua, guru dan masyarakat yang baik adalah orang tua, guru dan masyarakat yang visioner. Artinya mereka mempunyai rumusan ideal untuk menjadi sosok apa anak-anak mereka dam kurun waktu ke depan. Visi ini kemudian ditinda lanjuti dengan langka-langka nyata yang terimplementasi dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of value. Dalam konteks Islam visi tersebut adalah menjadi anak sebagai seorang yang berkepribadian muslim.               s

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KONTRIBUSI KELUARGA DALAM

PEMERDAYAAN MASYARAKAT MUSLIM

Abstrak: masyarakat muslim terbentu darii susunan keluarga-eluarga muslim. Keluarga dibangun atas dasar inndividu-individu. Oleh karena itu, pembinaan individu sangat penting dalam ajaran islam. Sehingga yang paling penting diutamakan dalam membangun keluarga adalah bagaimana menciptakan individu-individu yang shaleh. Individu-individu soial dan atau pribadi-pribadi yang saleh akan mambentu keluarga yang bahagia sejahtra dan diliputi kasih sayang. Keluarga seperti itu disebut keluarga sakina.  setiap keluarga dalam masyarakat islam telah mencapai tingkat sakina,akan membentuk masyarakat yang penuh dengan kasih sayang. Masyarakat seperti itu adalah masyarakat marhamah. Pada giliranya, masyarakat marhamah akan membentuk Negara yang baik, aman dan sejahtera yang disebut baldatun thayyibatun.negara yang bersifat thayyibatun ialah Negara yang masyarakatnya mendapat ampunan Allah yang disebut Al-qur’an baldatun thayyibatunwa rabbun ghapur.tuliasan ini akan membahas kontribusi keluarga dalam pemberdayaan masyarakat muslim yang diawali dengan menetapkan criteria ideal generasi yang diharapkan.

Mayoritas penduduk negeri ini (Indonesia) adalah penganut agama isalm (Muslim). Anga mayoritas itu buan tidak punya resiko bahkan mememiliki tertentu. Setiap terjadinya perubahan sosial dan budaya maka diadakannya pasti umat islam sebagai umat yang paling banyak akan bersentuhan dengan perubahan tersebut. Apalagi jika dikaitkan dengan globalisasi informasi yang menyebabkan tidak hanya iptek yang tersebar merata ke seluruh  dunia tetapi termassuk pula idiologi dan kebudayaan asing(barat). Perubahan sosial dan budaya ini akan berpengaruh negatif terhadap islam tidak siap menerimahnya dalam arti tidak mmemiliki kemampuan tertentu uuntuk mengantisipasi perubahan yang terjadi. Akibatnya,umat islam hanya akan menjadi objek dari perubahan sosial dan budayah

Salah sattu lembaga yang diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam menyiapkan suumber daya manusia (SDM) muslim yang berkuallitas sehubungan dengan fenomena perubahan sosial dan budaya di atas adalah keluarga.

Keluarga sebagaisuatu institusi,menurut Marwah Daud (1994:13) merupakan “Menurut sri sulastri (dalam jalaluddin rahmat,1993:3) keluarga merupakan “lembga ketahanan ahlak manusia”. Keluarga uga dikatakan juga  sebagai “buaian tempat anak melihat cahaya kehidupan yang pertama” (Mahjuba, 1992:13). Semua ugkapan tersebut adalah cerminan dari betapa pentingnya lemmbaga bernama keluarga.

Apa kontribusi keluarga dalam mepberdayakan masyarakat muslim? Jawaban pertanyaan inilah yang aan dikemukakan dalam  uraian berikut ini.

 

A.Kualitas Masyarakat Muslim Yanng Diharapan

Sebelum membahas kontribusi keluarga dalam memberdayakan masyarakat muslim terlebih dahulu harus diketahui secara jelas mengenai kualitas masyarakat muslim yang diharapkan. Dengan kata lain, kualitas-kualitas  yang bagaimana yang ingin diletakan pada pribadi-pribadi muslim. Oleh karena itu, uraian ini akan dimulai dari membicarakan kualitas masyarakat muslim yang diharapkan.

Item-item kualitas yang perlu dimiliki oleh setiap pribadi muslim agar tidak menjadi objek dari perubahan sosial dan budaya, atau yang diharapkan tidak hanya mampu mengantisipasi tetapi mampujuga untuk mengelola dan memanfaatkanya  bagi kemaslahatan hidup manusia adalah sebagai berikut:

1.Menguasai ilmu pengetahuan

Agama tanpa ilmu akan lumpuh dan ilmu tanpa agama akan hancur. Demikian  ucapan penemu teori relatifitas yang bernama Einstein. Ungkapan eistein itu seolah merupakan penjelasan atau tafsir dari firman Allah dalam al-Qur’ansuratal-mujadalah ayat 11 yang artinya”Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan beberapa derajat”.

Jadi, untuk memperoleh derajat yang tinggi dari Allah tidak cukup hanya dengan beriman saja tetapi harus dilengkapi dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, tidak cukup dengan menguasai ilmu pengetahuan saja untuk memperoleh derajat yang tinggi dari Allah tetapt harus dilengkapi iman.

Dalam pandangan isalm, ilmu tidak terletak setelah iman dan tidak menjadi penghambat dari eksistensi iman itu sendiri. Iman tidak mengenal pertentangan antar ilmu dan iman. Bahkan justru terdapat kesesuaian antar ilmu pengetahuan modern dengan ayat-ayat Allah di dalam al-Qur’an. DR. Mauric Bucaile dalam bukunya Al-Quran, Bible and sciene modern dalam hal inimenyatakan:”tak satupun ayat-ayat al-Qur’an yang bertentangan denagn ilmu pengetauan”. Di dalam al-Qur’an pun banyak ayat yang di dalamnya mengunakan kata-kata seperti fa’lam,afala tatafakkarun, afala ta’qilun yang semuanya itu mendorong umatnya untuk senantiasa berpiirmencari ilmu, mengolah data bai yang bersifat  makro kosmos maupun mikro kosmos (meneliti ayat-ayat Allah baik yang ada di dalam diri manusia itu pun sendiri maupun di semesta angkasa dan bumi ini).

2. Menguasai berbagai keterampilan

Muslim yang berkualitas tidak cukup hanya memiliki ilmu pengetahuan tetapi harus juga memiliki atau menguasai berbagai keterampilan praktis atau teknologi tepat guna seperti teknologi computer dengan berbagai programnya, teknologi pendidikan, perkebunan, pertenaan dan lain-lain.

Nabi Muhammad saw bersabda:”Ajarilah anak- anakmu berenang dan memanah. Dan sebaik- baik permainan orang mukmin dalam rumahnya adalah memintal benang”. (HR.Dailami).

Berenang, memenah dan memintal benang adalah sebagian dari sekian banyak keterampilan praktis. Muatan hadits ini adalah perintah terisat dari Rasullullah yang menginginkan agar seorang muslim dan muslimah tidak hanya pandai atau cerdas intelektual tetapi juga menguasai berbagai keterampilan. Untuk saat ini keterampilan praktis yang perlu dimiliki oleh muslim dan muslimah tidak hanya berenang, memanah, dan memintal benang tetapi juga segala macam tenologi praktis modern sesuai dengan perkembangan zaman.

3. Memiliki mental spiritual yang kuat.

Muslim yang berualitas adalah muslim yang memiliki ketangguhan fisik dan psikis atau kuat rohani dan jasmani. Ibarat pepatah ia harus bermental baja, tidak cepat putus asa, punya inisiatif, ulet, cekatan dan mampu menggunakan sarana yang ada. Muslim yang berkualitas senantiasa mengejar informasi bukan menunggu informasi.

Dalam satu sabdanya Rasullullah saw pernah memberikan pandangan bahwa muslim yang kuat itu buan saja muslim yang kuat dalam adu otot tetapi yang mampu menguasai amarah. Artinya memiliki kemampuan mengendalian nafsu, mampu mengendalikan emosi. Inilah yang sekarang disebut para pakar dengan istilah kecerdasan emosional. Jadi muslim yang berkulitas adalah muslim yang memiliki kecerdasan emosional.

4.Memiliki semangat profesionalisme

Kualitas lain yang harus dimiliki oleh seorang muslim adalah semangat profesionalisme dalam arti memiliki esungguhan atau ketekunan dalam bekerja. Allah berfirman:”Jika engkau telah menyelesaikan satu pekerjaan maka selesaikanlah pekerjaan yang lainnya dengan sungguh sungguh” (Q.s. [94] Alam Nasyrah;7).

Melalui ayat ini Allah SWT Ingin menegaskan bahwa melakuan suatu pekerjaan itu jangan dengan asal jadi, tetapi harus dengan perencanaan yang matang, bertahap dan menghasilkan produk yang tidak mengecewakan.

5. Disiplin

Disiplin adalah mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan sesuai dengan kedudukan dan tugas masing-masing. Dengan kata lain disiplin adalah taat azaz atau taat pada peraturan. Dan tida ada keta’atan yang lebih diutamakan kecuali ketaatan kepada Allah SWT. Artinya, muslim yang berkualitas itu adalah muslim yang jujur, amanah, tawadhu, qona’ah, wara’, yakin kepada kekuasaan Allah dan seterusnya.

Allah SWT, menegaskan di dalam al-Qur’an bahwa orang yang akan sukses hanyalah orang-orang yang taat pada peraturan Allah dan Rasul-Nya”(Baca QS. Al- Ahzab :71).

Kontribusi Keluarga

Agama Islam memperkenalkan manusia sebagai faktor utama dalam menentukan perkembangan satu masyarakat, dan telah memberikan lebel tersendiri pada keluarga sebagai pusat latihan fisik dan pendidikan mental manusia. Untuk tujuan ini, Islam telah memandang hubungan kedua orang tua dan juga hubungan dengan putera puteri mereka memiliki arti yang sangat penting dalam pembentukan stu masyarakat yang baik.

Untuk itulah, agama Islam menggariskan tugas-tugas utama seorang suami terhadap isterinya, seperti perilaku yang baik, tidak bertindak tatkala memperbaiki keliruan isteri, menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela di luar rumah dan sebagainya. Sementara pada saat yang sama, suami harus memenuhi berbagai tuntutan yang sah sang isteri di dalam rumah, sehingga ia dapat terhindar dari keterlibatannya dengan pikiran-pikiran yang buruk (berdosa). Sebaliknya, para wanita (isteri) telah dianjurkan untuk patuh, menjaga kesuciannya serta bersikap baik terhadap suami mereka. Berhias hanya untuk suami dan memandang hak-hak sahnya manakala ia tidak berada di rumah.

Pengalaman religius seorang anak berkaitan erat dengan sikap orang tua terhadap agama dan keyakinanya yang mereka perlihatkan di dalam rumah. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga atau rumah yang tidak religius biasanya mendapatkan pandangan atau pemiiran tentang tuhan dan agama dari kawan-kawanya dalam kelompok teman sebaya. Ini berarti bahwa orang tua sanngat berperan sekali terhadap pembentukan keyakinan dan sikap beragama anak.

Inilah makna dari ungkapan bahwa”dalam konsep islam, pernikahan tidak hanya telah menyebabkan terbenntuknya keluarga baru, tetapi seiring dengan itu telah terbentuk pula satu lembaga pendidikan baru yang sudah harus siap melahirkan dan membina generasi umat”(Nazarudin Rahman,2007:15)

Adabeberapa hal yang membuat institusi keluarga menjadi institusi penting dalam kaitan pemberdayaan masyarakat muslim yaitu”struktur keluarga, peranan budaya keluarga, peranan sosial keluarga, dan peranan emosi dan moral bangsa”(Yadi Kurniawan, 1993:29-30). Berikut akan dipaparkan secara singkat peranan pentig keluarga diimaksud:

 

  1. Stuktur keluarga

Secara kodrati bayi dilahirkan dalam keadaan suci, keluarga yang

membesarkanya menjadi baik atau buruk. Keluarga dan pendidikan dapat berpengaruh,bahkan menghilagkan sifat-sifat khas yang diwarisinya.

Anak adalah “buku catatan alam” yang belum mendapatkan “tulisan”, dan keluargalah yang menuliskan kalimat-kalimat angkuh, baik dan buruk diatasany.keluarga memiliki tanggung jawab terhadap membentuk kepribadian anak, juga dalam menentukan kebijak sanaan yang diambil olehnya pada masa sekarang dan mendatang. Dan unit keluarga pula yang bertanggung jawab atas terbentuknya sifat anak yang membangun atau merusak.

 

  1. Peranan sosial keluarga

Anak dilahirkan kedalam keluarga dengan kultur khusus. Sejak awal sekali

anak memperoleh budaya itu melalui orang tua dan keluarganya. Dengan landasan jiwa dan pikiran anak terbentuk. Budaya anak bergantung pada cita rasa dan selera orang tua. Jadi,orang tua amat berperan dalam hal penguasaan informasi, pengetahuan umum, bahasa dan percakapan, cara bergaul dan polah hidup, moral,cinta,kasih sayang,kerjasama, kemulian,dan kejujuran anak.

3. Peranan sosial keluarga

Keluarga memikul tanggung jawab bagi tegaknya masyarakat yang baik atau korup.ini  karena dasar pikiran dan jiwa anak terletak dalam pusat tersebut. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang mengarakan seorang individu pada kehidupan masyarakat (social life), serta menjadikanya sebagai sumber cita-cita,hendak,pemikiran ideologis, sosial dan politik. Sinkatanya, keluarga merupakan panngkal dari kesejahtraan masyarakat.

 

4. Peranan  emosional dan moral  bangsa

Lingkungan pertama yang memberian anak kekuatan dan kelemahan emosi dan perasaan adalah keluarga. Keluarga bertindak sebagai alat transfortasi tradisi,adapt istiadat,moralitas dan tirua. Dalam pusat keluarga, anak mempelajari moralitas, kepercayaan diri, larangan-larangan,penghormatan terhadap hukum, prilaku yang baik, kasih sayang,emosi,kebaikan, sfat iri hati dan sebagainya.

 

Penutup

Umat  Islam adalah pendukung mayoritas di Negara kesatuan RepoblikIndonesia. Angka mayoritas ini adalah angka strategis pebangunnan bagsa. Hal itu jika sikap umat islam dimaksud berkualitas. Jika tidak, ia akan menjadi masyarakat marjinal, menjadi penonton ansic karna tidak ikut bermain. Bukan menjadi pelopor dalam menegakan keadilan tetapi justru menjadi pengekor dalam menegakan kebenaran. Mengingat hal-hal yang demikian maka sudah sehausnya asset bangsa yang mahal iitu harus di berdayakan sedini munngin.

Salah satu lembaga yang diharapkan dapat mencetak SDM muslim yang berkualitas adalah oranng tua atau orang dewasa yang berasal dari keluarga muslim juga. Artinya, dari keluarga yang baik akan terbentuk masyarakat yang baik juga. Oleh karena itu, islam memandang apabila terjadi suatu pernikahan maka pernikahan tersebut buan saja telah menyebabkan terbentuknya rumah tangga baru atau keluarga baru tetapi seiring dengan itu telah  terbentuk pula lembaga pendidikan baru yang telah bersedia mendidik generasi umat. Sudah tentu membina dan mendidik dengan keteladanan.karena keteladanan orang tua merupakan faktor yang sangat berpengaruh bagi proses pembentukan kepribadian anak, yang dalam hal tindakan praktisnya meliputi transferisasi pengetahuan, cara hdup,sikap,nilai-nilai serta berbagai keterampilan lainya.

What do you think a bout

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s