KAUM PADERI

Kaum Paderi adalah kelompok Modernis dikalangan masyarakatnya. Hal ini bukan saja keberanian mereka melawan kekuatan Kolonial, yaitu perlawanan mereka yang di tujukan kepada Inggris di bawah pemerintahan Rafless tahun 1818, yang kebetulan saat itu menguasai beberapa wilayah di Tanah Air (khususnya di Minangkabau) sebelum kedatangan Belanda pada tahun 1821. Akan tetapi, juga keberanian mereka melawan kaum adat yang berperilaku menyimpang dari ajaran Islam. Sampai-sampai pertempuran terjadi antara kelompok Adat dengan Kaum Paderi di kota Lawas, yang selanjutnya dikenal dengan “Perang Paderi”.
Perang Paderi (1821-1837), adalah perang pemabaharuan kehidupan keagamaan, yang kemudian berubah menjadi perang perlawanan rakyat Minangkabau di bawah pimpinan kaum ulama’ terhadap intervensi Belanda.
Menurut sebagian sejarawan, kata “Paderi” menunjuk kepada sejumlah ulama’ yang pernah belajar agama di Pedir (Pidie), Aceh. Dan karena mereka membentuk suatu kekuatan, maka gerakan mereka dikatakan “Gerakan Paderi”. Pendapat lain mengatakan bahwa kata itu berasal dari bahasa Portugis, yaitu “padre” (bapak), panggilan yang biasanya diucapkan orang kepada kaum ulama’.
Munculnya Gerakan Paderi di Minangkabau berawal dengan kepulangan tiga orang ulama’ Minangkabau dari Makkah pada tahun 1803. Mereka adalah:
1) Haji Miskin dari Pandai Sikat, Luhak Agam
2) Haji Abdurrahman dari Piobang, Luhak Lima Puluh Kota, dan
3) Haji Muhammad Arif dari Sumanik, Luhak Tanah Datar

Mereka membawa paham Wahabi, yaitu suatu gerakan pemurnian akidah Islam, yang dipimpin oleh Muhammad bin Abdul Wahab. Pengaruh gerakan Wahabi sangat besar terhadap tiga tokoh tersebut yang baru pulang dari tanah suci. Ketiga ulama’ tersebut berhasil mempengaruhi seorang ulama’ yang terpandang, Tuanku Nan Renceh, dan seorang Penghulu Adat dari Lembah Alahan Panjang, Datuk Badaharo dan muridnya, Peto Syarif, yang kita kenal dengan gelar Tuanku Imam Bonjol. Mengenai Imam Bonjol (1773-1864) adalah termasuk tokoh yang amat disegani lawan maupun kawan dalam Gerakan Paderi. Sebab tokoh ini merupakan pelajut dan orang yang paling gigih dan tegar melawan Belanda sampai akhir hayatnya.
Para tokoh ulama’ di Luhak Agam yang dipimpin oleh Haji Miskin ini dikenal masyarakat sebagai Harimau Nan Salapan. Mereka adalah:
1) Tuanku Nan Renceh dari Kamang,
2) Tuanku di Kubu Sanang,
3) Tuanku di Galung, Tuanku fi Aur, dan Tuanku Haji Miskin.

Mereka melancarkan pembersihan terhadap perbuatan-perbuatan yang menurut faham mereka bertentangan dengan ajaran Islam. Perbuatan-perbuatan itu seperti sejumlah prilaku amoral dari Tetua Adat, seperti menyabung ayam, berjudi, minum arak, dan kelompok wanita yang berpakaian tidak sopan tanpa menutup aurat bergaul dengan laki-laki dalam setiap perkawinan dan semacamnya.
Maka dari itu mereka menegaskan shalat lima waktu harus dilaksanakan, wanita wajib bercadar, pria tidak boleh memakai sutera, segala bentuk perjudian, minum-minuman keras, menghisab madat, bahkan merokok dan makan sirih pun dilarang. Faham Wahabi ini disirahkan secara keras seperti halnya gerakan tersebut di Jazirah Arab.
Metode keras yang dilakukan oleh gerakan Paderi itu menimbulkan bentrokan antara Kaum Paderi dengan Tetua Adat. Bentrokan bersenjata pun terjadi dengan para penghulu adat. Pusat kerajaan Minangkabau, pagaruyung jatuh ketangan Paderi (1809). Gerakan meluas ke Tapanuli Selatan (1816) dan memperkenalkan Islam dengan keras di daerah ini.
Pada tahun 1818 Letnan Gubernur di Bengkulu Sir Thomas Stanford Raffles, mengunjungi D. Singkarak. Atas permintaan Tuanku Suruaso (putera Raja Minangkabau, Alam Muning Syah) dan beberapa Penghulu Adat, pasukannya ditinggalkan di Simawang. Pasukan ditarik kembali karena pemerintah tidak menyetujui politik Raffles. Setelah Padang kembali ke tangan Belanda pada tahun 1819, Tuanku Suruaso dan empat belas Penghulu Adat membuka perjanjian dengan Belanda (10 Februai 1820). Perundingan berakhir dengan perjanjian yang berisi penyerahan seluruh kerajaan Minangkabau dan keamanannya kepada Belanda. Dengan syarat Belanda harus mengusir dan melenyapkan Kaum Paderi. Dengan dalih membela Kaum Adat, Belanda memerangi Kaum Paderi (1821) dan pecahlah Perang Paderi. Peperangan itu dapat dibagi atas tiga periode, yaitu:
1) Periode tahun 1821-1831. Golongan paderi berhadapan dengan Belanda yang bekerjasama dengan sebagian Kaum Adat yang berpihak kepada Belanda.
2) Periode 1833-1834. Golongan yang berpihak kepada Belanda bersatu dengan Kaum Paderi dan beralih melawan Belanda.
3) Periode 1834-1837. Perang Bonjol. Yang meruapakan pertahanan terakhir Kaum Paderi.

Perang periode pertama antara Belanda dan Kaum Paderi dimulai pada tanggal 28 April 1821, yaitu tatkala Belanda menyerang kaum Paderi di Sulit Air (kini masuk Kab. Solok) melalui benteng peninggalan Inggris di Simawang (kini di Kab. Tanah Dasar). Perang ini berlangsung tanpa pemberitahuan lebih dahulu dari pihak Belanda yang dikepalai oleh Dupuy. Sejak saat itu bersatulah Kaum Paderi diseluruh Minangkabau, baik di Agam, Lima Puluh Kota, Tanah Dasar, maupun di Alahan Panjang.
Melihat Kaum Adat berperang dipihak Belanda, walaupun ada juga yang berpihak pada Kaum Paderi, Rakyat terpecah-belah dan bahkan ada ulama’ yang menyerang kepada Belanda, seperti Tuanku Dilako di Sulit Air dan Tuanku Imam Haji di Tanjung Balit (Tanah Dasar).
Pada peperangan periode ini, kedua belah pihak silih berganti menang. Semangat perjuangan Kaum Paderi, membuat Belanda mengubah taktik dengan menawarkan perdamaian kepada Paderi. Perjanjian damai ini pertama terjadi pada tanggal 22 Januari 1824 di tandatangani oleh Tuanku Imam Bonjol (Paderi), dan Letnan Kolonel Raffles (Belanda). Isi perjanjian tersebut adalah mengakhiri permusuhan kedua belah pihak dengan mengakui daerah kekuasaan masing-masing dan kebebasan berdagang di daerah masing-masing. Namun kelicikan Belanda tetap tercermin dalam perjanjian ini. Dalam perjanjian tersebut tercantum bahwa Kaum Paderi akan membantu Belanda melawan Paderi lainnya yang mengganggu Belanda. Ini berarti, kalau hal itu terjadi, maka akan terjadi perang saudara antar sesama Paderi.
Akan tetapi, perjanjian damai ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan melakukan serangan baru kepada Kaum Paderi. Namun kekuatan Kaum Paderi sulit mereka kalahkan, sehingga untuk kedua kalinya mereka mengajukan perjanjian damai pada tanggal 29 Oktober 1825 di Ujung Karang. Perjanjian di tanda tangani pada tanggal 15 November 1825 di Padang. Jika perjanjian Masang dilakukan oleh pihak Belanda dengan Kaum Paderi dari Belahan Utara (Minangkabau), maka perjanjian kedua diadakan antara Belanda dengan Kaum Paderi dari Agam, Lima Puluh Kota, dan Tanah Datar. Penandatangan perjanjian kedua ini dilakukan oleh Tuanku Keramat dari pihak Paderi dan Kolonel De Stuers dari pihak Belanda. Isi perjanjiannya antara lain :
 Belanda akan mengakui kekuatan Tuanku Keramat di Lintau dan Telawas (kini keduanya termasuk Kab. Tanah Datar), Lima Puluh Kota, dan Agam.
 Kedua belah pihak akan melindungi orang-orang yang kembali dari pengungsian, serta melindungi orang-orang yang dalam perjalanan dan perdagangan.

Setelah perjanjian ini kegiatan perang tidak banyak dilakukan. Tetapi setelah perang Diponegoro berakhir (1825-1830), Belanda kembali melakukan penyerbuan. Pada penyerbuan ini, Bukit Muara Palam (Kab. Tanah Datar) dapat mereka rebut pada Agustus 1831. Kapau sebagai Benteng Paderi di Agam mereka rebut April 1832, dan sebelumnya daerah pantai suplai senjata paderi dari Singapura mereka rebut Desember 1831. Kemudian Lintau jatuh ketangan Belanda Agustus 1832, dan pada tahun yang sama juga Kamang dan Bansa (keduanya kini di Kab. Agam) jatuh. Selanjutnya Bonjol (Pasaman) sebagai pertahanan Paderi direbut Belanda pada 21 September 1832,. Rao (kini di Kab. Pasaman) dan Sundatar (Kab. Agam) direbut Oktober 1832, dan pada tahun yang sama juga Lima Puluh Kota mereka kuasai. Dengan demikian, praktis seluruh Minangkabau, kecuali Kubung XIII, Solok, telah dikuasai Belanda.
Melihat kekalahan yang diderita golongan Paderi dan rakyat Minangkabau, dan kelakuan serdadu Belanda yang menodai adat dan agama, seperti menjadikan masjid sebagai asrama serdadu, maka pada tahun 1833-1834 terjadilah konsolidasi total Kaum Paderi dan persatuan antara Kaum Paderi dan Kaum Adat yang tadinya memihak Belanda. Semangat jihad Kaum paderi muncul kembali.
Pada tahun 1833, dikaki Gunung Tandikat dilakukanlah musyawarah antara Kaum Paderi dan Kaum Adat untuk menyusun langkah-langkah dalam rangka melakukan serangan serentak seluruh Minangkabau terhadap Belanda. Permusyawaratan berhasil menyetujui serangan itu akan serentak dilakukan di seluruh Minangkabau pada 11 Januari 1833.
Namun sebelum tanggal tersebut, rahasia bocor dan diketahui Belanda, sehingga seranagn serentak tak dapat dilakukan. Akan tetapi, atas kegigihan Kaum Paderi dan Kaum Adat, satu demi satu daerah yang diduduki Belanda dapat direbut. Mula-mula direbutlah Bonjol, Simawang, Tarantang, Tunggang, dan Lubuk Ambalau di Pasaman. Kemudian pada Juni 1833, Buo, Tambangan, dan Guguk Sigantang di Tanah Datar dapat pula direbut. Sementara disekita Kamang, Agam, pada bulan Juli 1833 terjadi peperangan sengit di bawah pimpinan Tuanku Mensiangan, yang akhirnya tertangkap dan dihukum gantung Belanda pada 29 Juli 1833.
Pada 25 Oktober 1833 pemerintah Belanda mengumumkan apa yang dikenal dengan “Plakat Panjang”. Isinya pada dasarnya adalah janji Belanda untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan rakyat. Lebih penting lagi, Belanda menyatakan bahwa rakyat Minangkabau tetap diperintah oleh para Penghulu Adat mereka dan tidak diharuskan membayar belasting atau pajak. Namun, karena usaha Belanda menjaga perdamaian dan memajukan perdangangan memerlukan biaya, maka rakyat dianjurkan menanam kopi dan menjualnya kepada kompeni. Plakat Panjang merupakan janji resmi atas nama Raja Belanda waktu itu.
Plakat Panjang mungkin secara langsung atau tidak, hal itu berpengaruh juga terhadap kondisi psikologis golongan Paderi di Bonjol. Serangan Belanda bertambah gencar sehingga seluruh jalur menuju ke Bonjol mereka blokade. Tuanku Imam Bonjol dengan segala kekuatan dan bantuan Paderi daerah lain sebenarnya masih tetap bertahan. Akan tetapi, Tuanku Nan Tinggi, yang tau betul kekuatan dan kelemahan Paderi Bonjol, menyerah, akhirnya benteng Bonjol jatuh ketangan Belanda tanggal 16 Agustus 1837.
Jatuhnya Bonjol menyebabkan pusat perjuangan Paderi ia pindahkan ke Daludalu (kini masuk Kab. Kampar, Riau, dekat perbatasan dengan Sumatera Barat) di bawah komando Tuanku Tambusai. Tetapi Daludalu-pun dapat direbut Belanda tanggal 28 Desember 1838. Kemudian gerakan Paderi di Kubung XIII, Solok, dapat pula ditaklukan Belanda pada bulan April 1838.
Akhirnya, pada tanggal 28 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol yang tak tahan melihat penderitaan keluarganya bersedia berdamai dengan syarat ia tidak akan diasingkan dari tanah Minangkabau. Dia menemui Komandan Belanda di Palupuh (di utara Bukit Tinggi). Dengan upacara kehormatan dia dibawa ke Padang. Disana kapal telah menantinya. Dia diasingkan ke Sukabumi (Jawa Barat) dan kemudian dibawa ke Manado (Sulawesi Utara). Dia wafat tanggal 12 Zulhijjah 1238 (1864), dan dimakamkan di Lutak, Manado.
Gerakan Paderi semula berhadapan dengan Kaum Adat, tetapi Kaum Paderi dan Kaum Adat berhasil dipadukan dengan Piagam Muara Palam yang terkenal melahirkan pepatah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” dan “Syarak Mengata, Adat Memakai”. Maka sebuah ideologi adat telah dirumuskan. Agama Islam telah dijadikan sebagai landasan hakiki alam Minangkabau, sedangkan adat secara teoretis dijadikan sebagai penyalur akan terwujudnya landasan filosofi dalam kenyataan sosial dan kehidupan masyarakat.

Buku rujukan Ensiklopedi Islam Jilid 4
Juga bisa baca :
Abdul Sani. Lintasan Seajarah Pemikiran Perkembangan Modern dalam Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998
Ahmad Syaukani. Perkembangan Pemikiran Modern di Dunia Islam. Bandung : Pustaka Setia, 1997
Ahmad Taufik. Sejarah Pemikran dan Tokoh Modernisme Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005

What do you think a bout

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s