TUJUAN PERENCANAAN PENDIDIKAN


  1. Perencanan Pendidikan

Sebelum membahas tentang tujuan perencanaan pendidikan, dalam tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pengertian, prinsip dan karakteristik, jenis, dan proses perencanaan pendidikan.

  1. Pengertian Tujuan Perencanaan Pendidikan

Pengertian Tujuan

Istilah “tujuan” atau “sasaran” atau “maksud”, dalam bahasa Arab dinyatakan dengan “ghayat” atau “ahdaf” atau “maqasid”. Sedangkan dalam bahasa Inggris, istilah ‘tujuan” dinyatakan dengan “goal” atau “perpose” atau “objective” atau “aim”. Secara umum istilah-istilah tersebut mengandung pengertian yang sama, yaitu perbuatan yang diarahkan kepada suatu tujuan tertentu, atau arah, atau maksud yang hendak dicapai melalui upaya atau aktifitas (Ramayulis, 2002:65).

Tujuan itu sendiri menurut Zakiyah Darajat, adalah sesuatu yang diharapkan tercapai setelah suatu usaha atau kegiatan selesai. Sedangkan menurut H.M. Arifin, tujuan itu bisa jadi menunjukkan kepada futuritas (masa depan) yang terletak suatu jarak tertentu yang tidak dapat dicapai kecuali dengan usaha melalui proses tertentu (Ramayulis, 2002:65).

Meskipun banyak pendapat tentang pengertian tujuan, akan tetapi pada umumnya pengertian itu terpusat pada usaha atau perbuatan yang dilaksanakan untuk suatu maksud tertentu.

 

Pengertian Perencanaan.  

Dalam manajemen, perencanaan disebut sebagai salah satu dari lima fungsi manajemen. Andrew J. Dubrin dalam Usman (2008: 4) menyatakan bahwa:

“The term management is refer to the process of using organizational resources to achive organizational objectives trought the functions of planning and detection making, organizing, leading, and controlling.”

Dubrin menjelaskan bahwa pada dasarnya manajemen adalah proses pemanfaatan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan dengan melaksanakan fungsi-fungsi perencanaan, pengambilan keputusan, pengorganisasian dari semua kegiatan dan sumber-sumber yang dimiliki, kepemimpinan serta pengawasan terhadap semua aktivitas.

George R. Terry (dalam Herlina, 2007: 33) menyebutkan bahwa perencanaan atau dalam bahasa Inggris-nya adalah planning merupakan fungsi manajemen yang menjawab rumus 5 W+ 1 H, yaitu what (apa) yang akan dilakukan, why (mengapa harus melakukan apa, when (kapan) melakukan apa, where (dimana) melakukan apa, (who) siapa yang akan melakukan apa, how (bagaimana) cara melakukan apa.

Perencanaan mempunyai implikasi masa depan, dan mengandung arti dibutuhkannya keahlian merancang rencana untuk tercapainya tujuan. Pendeknya, rencana adalah jalan tindakan yang ditentukan sebelumnya. Sementara itu Mondy dan Premeux (Syafaruddin, 2005: 61) menjelaskan bahwa perencanaan merupakan proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Artinya di dalam perencanaan akan ditentukan apa yang akan dicapai, dengan membuat rencana dan cara-cara melakukan rencana untuk mencapai tujuan yang ditetapkan para manajer disetiap level manajemen, termasuk di dalamnya manajemen pendidikan.

Allah Swt berfirman dalam surat al-Hasyr ayat 18, yang berbunyi :

 

 

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah Swt dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menurut Muhammad Ali Al-Shabuni (Qomar, 2007: 30), yang dimaksud dengan kalimat

adalah hendaknya masing-masing individu memperhatikan amal-amal sholeh yang diperbuat untuk menghadapi hari kiamat. Ayat ini memberi pesan kepada orang-orang yang beriman untuk memikirkan masa depan. Dalam bahasa manajemen, pemikiran masa depan yang dituangkan dalam konsep yang jelas dan sistematis ini disebut perencanaan (planning).

Jadi, secara sederhana dapat kita simpulkan bahwa perencanaan (planning) merupakan pemikiran masa depan yang dituangkan ke dalam konsep yang jelas dan sistematis, proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan.

 

Pengertian Pendidikan

Webster’s New York mendefinisikan pendidikan adalah “proses pelatihan dan pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, karakter, dan seterusnya, khususnya lewat persekolahan formal” (Sagala, 2007: 1)

Definisi pendidikan  dalam perspektif kebijakan, kita telah memiliki rumusan formal dan   operasional, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, yakni:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari kedua pengertian di atas dipahami bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar dan terencana yang dituangkan dalam proses pembelajaran secara aktif mengembangka potensi dirinya yang bermanfaat bagi diri, masyrakat dan bangsa.

Setelah menyimak pemaparan-pemaparan di atas mengenai tujuan perencanaan pendiddikan secara terpisah. Maka, dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan tujuan perencanaan pendidikan adalah sasaran atau maksud yang ingin dicapai dengan memikirkanmasa depan terlebih dahulu yang dituangkanke dalam konsep yang sistematis, proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Pencapaian tersebut yaitu tujuan dari pendidikan nasional.

 

  1. Prinsip dan Karakteristik Perencanaan Pendidikan

Prinsip Perencanaan Pendidikan

Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain sebagai berikut:

  • Prinsip Interdisipliner, yaitu menyangkut berbagai bidang keilmuan atau beragam kehidupan. Hal ini penting karena hakikat layanan pendidikan kepada peserta didik harus menyangkut berbagai jenis pengetahuan, beragam ketrampilan dan nilai-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat.
  • Prinsip Fleksibel, yaitu bersifat lentur, dinamik dan responsif terhadap perkembangan atau perubahan kehidupan di masyarakat. Hal ini penting, karena hakikat layanan pendidikan kepada peserta didik adalah menyiapkan siswa untuk mampu menghadapi perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan beragam tantangan kehidupan terkini.
  • Prinsip Efektifitas-Efisiensi, artinya dalam penyusunan perencanaan pendidikan didasarkan pada perhitungan sumber daya yang ada secara cermat dan matang, sehingga perencanaan itu ‘berhasil guna’ dan ‘bernilai guna’ dalam pencapaian tujuan pendidikan.
  • Prinsip Progress of Change, yaitu terus mendorong dan memberi peluang kepada semua warga sekolah untuk berkarya dan bergerak maju ke depan dengan beragam pembaharuan layanan pendidikan yang lebih berkualitas, sesuai dengan peranan masing-masing.
  • Prinsip Objektif, Rasional dan Sistematis, artinya perencanaan pendidikan harus disusun berdasarkan data yang ada, berdasarkan analisa kebutuhan dan kemanfaatan layanan pendidikan secara rasional (memungkinkan untuk diwujudkan secara nyata), dan mempunyai sistematika dan tahapan pencapaian program secara jelas dan berkesinambungan.
  • Prinsip KooperatifKomprehensif, artinya  perencanaan yang disusun mampu memotivasi dan membangun mentalitas semua warga sekolah dalam bekerja sebagai suatu tim (team work) yang baik. Disamping itu perencanaan yang disusun harus  mencakup seluruh aspek esensial (mendasar) tentang layanan pendidikan akademik dan non akademik setiap peserta didik.
  • Prinsip Human Resources Development, artinya perencanaan pendidikan harus disusun sebaik mungkin dan mampu menjadi acuan dalam pengembangan sumber daya manusia secara maksimal dalam mensukseskan program pembangunan pendidikan. Layanan pendidikan pada peserta didik harus betul-betul mampu membangun individu yang unggul baik dari aspek intelektual (penguasaan science and technology), aspek emosional (kepribadian atau akhlak), dan aspek spiritual (keimanan dan ketakwaan) , atau disebut IESQ yang unggul (http://drarifin.wordpress.com).

Ketujuh prinsip di atas merupakan komponen yang tidak dapat kita abaikan dalam pembuatan perenanaan pendidikan. Karena dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai pengatur langkah-langkah yang akan diterapkan dalam perencanaan pendidikan.

Karakteristik Perencanaan Pendidikan

Selanjutnya adalah karakteristik perencanaan pendidikan. Karakteristik merupakan sinonim dari kata karakter, watak, dan sifat yang memiliki pengertian suatu sifat yang khas, yang melekat pada seseorang atau suatu objek (http://blog.uin-malang.ac.id). Maka dari itu perencanaan pendidikan juga mempunyai sifat khas atau karakteristik tersendiri, diantaranya adalah seperti yang disampaikan oleh Banghart dan Trull (Supardi& Syah, 2010: 14-15) sebagai berikut:

  1. Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan social dan konsep-konsepnya yang dirancag oleh banyak orang.
  2. Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengaharpkan demikian.
  3. Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya, namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.
  4. Perencanaan pendidikan berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah dalam manajemennya.

Karakteristik perencanaan pendidikan disampaikan pula oleh Supardi& Syah (2009: 31), yaitu:

  • Suatu proses rasional, dikarakteristikkan sebagai pengembangan yang terorganisasi dari kegiatan pembelajaran masyarakat.
  • Menyangkut tujuan social, cara dan tujuan, proses-proses dan kontrol.
  • Merupakan rancangan konseptual dimana kebijakan dan tindakan dibuat oleh sekelompok.
  • Konsep dinamis yang menjamin suatu rencana dikonstruksikan dengan lentur sehingga tidak mungkin terjadi penyimpangan.
  1. Proses Perencanaan Pendidikan

Kegiatan perencanaan adalah kegiatan yang sistematik dan sequensial, karena itu kegiatan-kegiatan dalam proses penyusunan perencanaan dan pelaksanaan perencanaan pendidikan memerlukan tahapan-tahapan sesuai dengan karakteristik perencanaan itu sendiri. Banghart dan Trull (Sa’ud dan Makmun, 2009: 23) menggambarkan tahapan-tahapan perencanaan sebagai berikut:

  • Proloque: pendahuluan atau langkah persiapan untuk memulai kegiatan perencanaan.
  • Identifying educational planning problems yang mencakup: (a). delineating the scope of educational problem atau menentukan ruang lingkup permasalahan perencanaan, (b) Studying what has been atau mengkaji apa yang telah direncanakan, (c). determining what has been versus what should be artinya membandingkan apa yang telah dicapai dengan apa yang seharusnya dicapai, (d) resources and constraints atau sumber daya yang tersedia dan keterbatasannya, (e) estabilishing educational planning parts and priorities artinya mengembangkan bagian-bagian perencanaan dan prioritas perencanaan.
  • Analizing planning problem area artinya mengkaji permasalahan perencanaan yang mencakup: (a) Study areas and systems of subareas, yaitu mengkaji permsalahan dan sub permasalahan, (b). gathering date, yaitu pengumpulan data, tabulating data atau tabulasi data, (c) forecasting atau proyeksi.
  • Conceptualizing and designing plan, menggambarkan rencana yang mencakup: (a) identifying prevailing trends atau identifikasi kecendrungan-kecendrungan yang ada, (b) estabilishing goals and objective atau merumuskan tujuan umum dan tujuan khusus, (e). designing plans, menyusun rencana.
  • Evaluating plan, menilai rencana yang telah disusun tersebut yang mencakup: (a) planing trough simulation, simulasi rencana, (b). evaluating plan, evaluasi rencana, (c) selecting a plan, memilih rencana.
  • Specifying the plan, menguraikan rencana yang mencakup: (a) problem formulation, merumuskan masalah, (b). reporting result atau menyusun hasil rumusa dalam bentuk final plan draft atau rencana terakhir.
  • Implementing the plan, melaksanakan rencana yang mecakup: (a) program preparation, persiapan rencana operasional, (b) plan approval, legal justification, persutujuan dan pengesahan rencana, (c) organizing operational units, mengatur aparat organisasi.
  • Plan feedback, balikan pelaksanaan rencana yang mencakup: (a) monitoring the plann, memantau pelaksanaan rencana, (b) evaluation the plan, evaluasi pelaksanaan rencana, (c) adjusting, altering or planning for what, how, and by whom yang berarti menadakan perubahan rencana atau merancang apa yang perlu dirancang lagi bagaimana rancangannya, dan oleh siapa.

Selain itu terdapat pula proses dan tahapan perencanaan dalam bentuk yang lebih sederhana yaitu:

  • Need assessment. Kajian ini penting karena akan membandingkan antara what has been dan should be, yang merupakan pangkal tolak kegiatan perencanaan.
  • Formulation of goals and objectives
  • Policy and priority setting
  • Program and project formulation
  • Feasibility testing denga melalui alokasi sumber-sumber yag tersedia dalam hal ini terutama sumber dana.
  • Plan implementation
  • Evaluation and revision for future plan

Berdasarkan telaah terhadap tahapan atau proses perencanaan yang telah dikemukakan tersebut di atas, tampaknya secara sederhana proses perencanaan terdiri dari beberapa komponen utama yang esensial dan secara prinsipil tidak dapat ditinggalkan. Komponen-komponen tersebut adalah:

  1. Kajian terhadap hasil perencanaan pembangunan pendidikan periode sebelumnya sebagai titik perencanaan selanjutnya.
  2. Rumusan tentang tujuan umum perencanaan pendidikan yang merupakan arah yang harus dapat dijadikan titik tumpu kegiatan perencanaan.
  3. Rumusan kebijakan atau posisi yang kemudian dapat dijabarkan ke dalam strategi dasar perencanaan yang merupakan respon terhadap cara mewujudkan tujuan yang ditentukan.
  4. Pengembangan program dan proyek sebagai operasionalisasi prioritas yang ditetapkan.
  5. Implementasi rencana
  6. Evaluasi dan revisi.

Sederhananya jika ketiga model proses yang diuraikan di atas dibandingkan, maka terlihat dengan nyata adanya unsur-unsur esensial yang sama dalam proses pengembangan rencana pembangunan pendidikan. Dengan adanya unsure-unsur yang sama tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahawa proses perencanaan adalah suatu proses yang diakui perlu dijalani secara sistematik dan berurutan (sequential) karena keteraturan itu merupakan proses rasional sebagai salah satu property perencanaan pendidikan.

 

  1. Tujuan Pembuatan Perencanaan Pendidikan.

Perencanaan jika melihat dari pembahasan di atas menjadi sangat penting karena berfungsi sebagai pengarah kegiatan, target-target, dan hasil-hasilnya di masa depan sehingga apapun kegiatan yang dilakukan diharapkan dapat berjalan dengan tertib. Yang kemudian akan tercapailah apa yang menjadi tujuan dari organisasi atau lembaga.

Tujuan mengandung usaha untuk melakasanakn tindakan atau rumusan mengenai apa yang diinginkan pada kurun waktu tertentu. Tujuan harus menegaskan mengenai sesuatu secara SMART (specipic, measurable, attainable, realistic, and time bounding) atau (khusus, dapat diukur, dapat diwujudkan, realistis, dan berjangka wantu tertentu).

Dengan demikian tujuan perencanaan pendidikan adalah usaha untuk melakasanakn tindakan atau rumusan mengenai apa yang diinginkan dimasa depan. Karena perencanaan berfungsi sebagai pengarah kegiatan, target-target, dan hasil-hasilnya di masa depan sehingga apapun kegiatan yang dilakukan diharapkan dapat berjalan dengan tertib. Yang kemudian akan tercapailah apa yang menjadi tujuan pendidikan.

Banyak tujuan yang hendak dicapai dari perencanaan pendidikan. Diantaranya Supardi dan Syah menuliskan (2010: 11-12) sebagai berikut:

  • Menyajikan rancangan keputusan-keputusan atasan untuk disetujui pejabat tingkat nasional yang berwenang.
  • Menyediakan pola kegiatan-kegiatan secara matang bagi berbagai bidang/satuan kerja yang bertanggung-jawab untuk melakukan kebijaksanaan.
  • Mencari kebenaran atas fakta-fakta yang diperoleh atau yang akan disajikan agar dapat diterima oleh stakeholder
  • Menentukann tindakan-tindakan yang akan dilakukan dan diorientasikan pada masa depan.
  • Meyakinkan secara logis dan rasional kepada stakeholder pendidikan terhadap pendidikan.

Sementara itu, dalam bukunya Sagala (2009) menjelaskan beberapa tujuan dalam penyusunan perencanaan pendidikan, antara lain:

  • Untuk standar pengawasan pola perilaku pelaksana pendidikan, yaitu untuk mencocokkan antara pelaksanaan atau tindakan pemimpin dan anggota organisasi pendidikan dengan program atau perencanaan yang telah disusun;
  • Untuk mengetahui kapan pelaksanaan perencanaan pendidikan itu diberlakukan dan bagaimana proses penyelesaian suatu kegiatan layanan pendidikan;
  • Untuk mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya) dalam pelaksanaan program atau perencanaan pendidikan, baik aspek kualitas maupun kuantitasnya, dan baik menyangkut aspek akademik-nonakademik;
  • Untuk mewujudkan proses kegiatan dalam pencapaian tujuan pendidikan secara efektif dan sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan;
  • Untuk meminimalkan terjadinya beragam kegiatan yang tidak produktif dan tidak efisien, baik dari segi biaya, tenaga dan waktu selama proses layanan pendidikan;
  • Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh (integral) dan khusus (spefisik) tentang jenis kegiatan atau pekerjaan bidang pendidikan yang harus dilakukan;
  • Untuk menyerasikan atau memadukan beberapa sub pekerjaan dalam suatu organisasi pendidikan sebagai ‘suatu sistem’;
  • Untuk mengetahui beragam peluang, hambatan, tantangan dan kesulitan yang dihadapi organisasi pendidikan; dan
  • Untuk mengarahkan proses  pencapaikan tujuan pendidikan

Tujuan perencanaan juga dijelaskan oleh Sa’ud dan Makmun (2009:57) bahwa tujuan perencanaan pendidikan adalah untuk mencapai efesiensi pada proses penyelesaian masalah dan memerlukan paling sedikt tiga tujuan, yakni:

  • Menegaskan kebenaran yang berarti menemukan kenyataan yang dapat diterima oleh orang lain.
  • Menentukan serangkaian tindakan dimaksudkan untuk melihat gambaarn di masa depan yang merupakan sesensi dari perencanaan.
  • Membujuk yang membutuhkan sehingga dapat memunculkan sikap personal, kegemaran, prasangka dan emosi yang dapat menentkan tindakan.

 

Dari telaah tujuan perencanaan pendidikan yang disampaikan di atas setidaknya memiliki kesamaan-kesamaan sebagai berikut:

  • Pengawasan terhadap perilaku pelaksanaan pendidikan,
  • Meminimalisir kegiatan-kegiatan yang tidak produktif,
  • Penyeragaman sub-sub kegiatan,
  • Menstrukturkan siapa saja perencana yang terlibat, dan
  • Dapat menjadi arahan dalam pencapaian tujuan.
  1. Tujuan Perencanaan Jangka Pendek, Menengah, dan Panjang

Setidaknya terdapat enam jenajang atau jenis perencanaan termasuk di dalamnya adalah perencanaan pendidikan, yaitu sebagai berikut:

  • berdasarkan jangka waktu,
  • berdasarkan luas jangakauannya tau menurut besarannya,
  • berdasarkan telaahnya,
  • berdasarkan rancangan system
  • berdasarkan peranan pemerintah, dan berdasarkan orang yang terlibat.

Perencaan jangka pendek, menengah, dan panjang adalah termasuk perencanaan berdasarkan jangka waktu. Dijelaskan sebagai berikut:

  1. Perencanaan Jangka Panjang

Rencana jangka panjang adalah perencanaan yang meliputi kurun waktu 10, 20, atau 25 tahun. Parameter atau ukuran keberhasilannya bersifat sangat umum, global dan tidak terperinci. Makin panjang jangka waktunya makin banyak variable dan parameter yang sulit diukur pencapaiannya. Namun demikian perencanaan jangka panjang dapat member arah untuk perencanaan jangka menengah atau pendek.

  1. Perencanaan Menengah

Perencanaan jangka menengah adalah perencanaan yang dilaksanakan dalam kurun waktu antara 4-7 tahun atau 4-10 tahun. Perencanaan jangka menengah merupakan penjabaran dari perencanaan jangka panjang dan perlu dijabarkan dalam perencanaan jangka pendek.

  1. Perencanaan Jangka Panjang

Perencanaan jangka pendek ini adalah perencanaan dengan kurun waktu 1-3 tahun dan merupakan penjabaran dari perencanaan jangka menengah. Perencaaan jangka menengah bersifat ritun dan siklus yag dikerjakan secara berulang.

Perencanaan jangka pendek dibagi dan dibedakan ke dalam tiga macam:

  • Perencaaan tahunan (annual planning), yaitu penterjemahan dari perencanaan jangka menengah, dengan mengadakan penyesuaian-penyesuaian apabila diperlukan.
  • Perencanaan untuk memecahkan masalah-masalah mendesak yag mungkin dapat dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun atau kurang dari satu tahun.
  • Perencanaan kerja dalam pelaksanaan tugas rutin yang dapat berupa perencanaan triwulan, bulanan, mingguan, bahkan juga harian, termasuk prosedur kerja dan cara-cara kerja.

Sesuai jenisnya, tujuan dari perencanaan pendidikan jangka pendek, menengah, dan panjang adalah agar perencana dapat mengatahui batasan-batasan yang menjadi parameter dalam pencapaian tujua yang dihendaki. Selain itu, perencana juga dapat lebih terstruktur karena dengan adanya perencaaan jangka pendek, menengah, dan panjang akan mendapatkan rambu-rambu dalam pelaksanaannya. Rambu-rambu yang dimaksud adalah sesuai waktu yang telah ditentukan.

Tujuan pembuatan perencanaan pendidikan juga tidak lepas dari pemahaman perencana dalam ruang lingkup perencanaan itu sendiri. Diantarnya adalah seperti yang telah di paparkan diatas. Perencana harus terlebih dahulu memahami definisi perencanaan pendidikan, alasannya adalah agar perencana tidak keluar dari rambu-rambu seharusnya. Demikian pula dengan karakteristik, proses dalam merumuskan perencanaan juga harus diperhatikan. Karena, akan membantu perencana dalam perumusan perencanaan pendidikan sehinnga apa yang diharapkan pada masa depan dapat tercapai.

  1. Kesimpulan

Dari pemaparan-pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, definisi tujuan perencanaan pendidikan adalah sasaran atau maksud yang ingin dicapai dengan memikirkanmasa depan terlebih dahulu yang dituangkanke dalam konsep yang sistematis, proses menentukan apa yang seharusnya dicapai dan bagaimana mewujudkannya dalam kenyataan. Pencapaian tersebut yaitu tujuan dari pendidikan nasional.

Kedua, dalam perencanaan pendidikan setidaknya perencana harus memerhatikan komponen-komponen berikut:

  • Prinsip dan Karakteristik Perencanaan Pendidikan
  • Proses Perencanaan Pendidikan

Ketiga, tujuan perencanaan pendidikan. Terdapat banyak pendapat ahli mengenai tujuan perencanaan pendidikan. Dalam garis besarnya tersimpulkan sebagai berikut:

  • Pengawasan terhadap perilaku pelaksanaan pendidikan,
  • Meminimalisir kegiatan-kegiatan yang tidak produktif,
  • Penyeragaman sub-sub kegiatan,
  • Menstrukturkan siapa saja perencana yang terlibat, dan
  • Dapat menjadi arahan dalam pencapaian tujuan.

Keempat, Sesuai jenisnya, tujuan dari perencanaan pendidikan jangka pendek, menengah, dan panjang adalah agar perencana dapat mengatahui batasan-batasan yang menjadi parameter dalam pencapaian tujuan yang dihendaki. Selain itu, perencana juga dapat lebih terstruktur karena dengan adanya perencaaan jangka pendek, menengah, dan panjang akan mendapatkan rambu-rambu dalam pelaksanaannya. Rambu-rambu yang dimaksud adalah sesuai waktu yang telah ditentukan.

What do you think a bout

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s