Psikologi Pendidikan (Education Psychology)


A. Konsep Psikologi
1. Pengertian Psikologi
Psikologi berasal dari bahasa Inggris psychology yang berakar pada dua kata dari bahas Yunani, yaitu: psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa. Namun menurut Gerungan (dalam Khadijah, 2006:1), ilmu jiwa berbeda dengan psikologi dalam dua hal, yaitu:
a) Ilmu jiwa adalah istilah bahasa Indonesia sehari-hari yang dikenal dan digunakan secara luas, sedangkan psikologi merupakan istilah scientific.
b) Ilmu jiwa mengandung arti yang lebih luas dari psikologi.
Pada awalnya psikologi ilmu yang mempelajari gejala-gejala jiwa, akan tetapi saat ini psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku. Adapun definisi psikologi menurut beberapa para ahli adalah sebagai berikut:
1) Willhelm Wundt, “psikologi adalah ilmu tentang kesadaran manusia (the science of human consciousness)”
2) Woodworth dan Marquis, menyatakan bahwa psikologi adalah ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu, mencakup aktivitas motorik, kognitif, maupun emosional
3) Alfred Binet, seorang tokoh perintis pengukuran intelegensi mendefinisikan intelegensi terdiri dari tiga komponen, yaitu:
a) Kemampuan untuk mengarahkan pikiran dan tindakan
b) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan setelah tindakan tersebut dilaksanakan
c) Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri atau melakukan auto criticism
4) Super dan Cities mengemukakan suatu definisi yang sering dipakai oleh sementara orang sebagai berikut:
“Intellegence has frequently been defined as the ability to adjust to hte environment or to learn form experience.” (Intelegensi didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman).
5) Garret mencoba mengemukakan definisi intelegensi yang lebih operasional sebagai berikut:
“Intellegence, includees at least the abilities demanded in the solution of prolems which require the comprehention and use of symbols”.

6) Bischof, seorang psikolog Amerika. Mengemukakan definisi yang lebih luwes namun tetap operasional dan fungsional bagi kehidupan manusia sehari-hari sebagai berikut:
“Intellegensi is the ability problems of all kinds”. (Intelegensi adalah kemampuan untuk memecahkan segala macam jenis masalah).

7) Heindentich mendefinisikan psikologi sebagai berikut:
“Intellegence refers to the ability to learn and to utilize what has been learned in adjusting to unfamiliar situations, or in he solving of problems” (Intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan-pemecahan masalah).

2. Sejarah Psikologi
Dilihat dari sejarahnya, pada awal psikologi dimaknai sebagai ilmu jiwa yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa. Akan tetapi, karena jiwa itu bersifat abstrak sehingga sulit dipelajari secara obyektf dan karena jiwa termanifestasi dalam bentuk perilaku, maka dalam perkembangannya kemudian psikologi menjadi ilmu yang mempelajari perilaku. Tokoh yang membatasi ruang lingkup psikologi ini adalah Willhelm Wundt (1981).

3. Ruang Lingkup Psikologi
Ruang lingkup psikologi terbagi dalam dua bagian, yaitu sebagai berikut ini:
1) Psikologi Umum. Menyelidiki & mempelajari aktivitas-aktivitas psikis manusia yg tercermin dalam perilaku pada umumnya, yang dewasa, yang normal, dan yang beradab .
2) Psikologi Khusus. Menyelidiki & mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas psikis manusia

B. Perkembangan
1. Pengertian Perkembangan
Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru (Ali, 2009:11).
Menurut Berk (dalam Ali, 2009:11), Perubahan kemampuan dan karakteristik psikis sebagai hasil dari perubahan dan kesiapan struktur biologis yang sering dikenal dengan istilah “kematangan”.
Dari kedua definisi tersebut, diphami bahwa perkembangan merupakan proses perubahan kemampuan dan karakteristik psikis yang bersifat progresif sebagai hasil dari perubahan dan kesiapan struktur biologis.

2. Proses Perkembangan
Menurut Santrock (2007), ada tiga proses yang dilibatkan dalam perkembangan, yaitu proses biologis, kognitif, dan sosial-emosi.
• Proses biologis yaitu perubahan pada tubuh
• Proses kognitif yaitu perubahan dalam pikiran, intelegensi, dan bahasa
• Proses sosial-emosi yaitu perubahan dalam hubungan dengan orang lain, perubahan emosi, dan perubahan dalam kepribadian

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Hingga awal abad 20, para ahli masih percaya bahwa lingkungan merupakan satu-satunya faktor yang mempengaruhi perkembangan. Penelitian terkenal yg mendukung asumsi ini adalah yang dilakukan oleh ahli psikiatri Rene Spitz .
Saat ini, para ahli percaya bahwa perkembangan dipengaruhi oleh hereditas dan lingkungan. Pada saat lahir, seorang bayi telah membawa semua jenis keterampilan mental dan predisposisi sebagai potensi awal yang sangat dibutuhkan bagi perkembangan selanjutnya.
a) Hereditas.
Hereditas didefinisikan sebagai pewarisan atau pemindahan biologis karakteristik individu dari pihak orang tuanya .Proses genetis individu berawal dr pertemuan 23 kromosom pihak ayah dan 23 kromosom pihak ibu.Faktor hereditas meliputi: sifat-sifat kejasmanian, temperamen, dan bakat.

b) Lingkungan.
Lingkungan diartikan sebagai segala materiil dan stimuli di dalam dan di luar diri individu. Lingkungan mencakup tiga aspek yaitu lingkungan fisiologis, lingkungan psikologis, dan lingkungan sosio-kultural.
• Lingkungan fisiologis adalah segala kondisi dan materiil di dalam tubuh.
• Lingkungan psikologis adalah segala stimulasi yang diterima individu sejak masa dalam kandungan hingga meninggal.
• Lingkungan sosio-kultural adalah segala stimulasi interaksi dan kondisi eksternal dalam hubungannya dengan perlakuan atau karya orang lain.

C. Belajar
1. Pengertian
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Salmeto, 2010:2)
Adapun menurut para ahli, terdapat banyak definisi belajar, berikut ini dikemukakan beberapa definisi belajar menurut para ahli :
1. Menurut Bell-Gredler (Khadijah, 2009:44), menyatakn bahwa belajar sebagai proses perolehan berbagai kompetensi, keterampilan, dan sikap (learning is the process by which human being acquire a vast variety of competencies, skills, and attitude)
2. Menurut James O. Whittaker, belajar dapat didefinisikan sebagai proses perubahan tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. Dengan demikian perubahan- perubahan tingkah laku akibat pertumbuhan fisik atau kematangan, kelelahan, penyakit, atau pengaruh obat-obatan adalah tidak termasuk sebagai belajar (Widodo dkk: 127).
3. Menurut Cronbach dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology belajar yang efektif adalah melalui pengalaman, dalam proses belajar seseorang berinteraksi langsung dengan objek belajar dengan menggunakan semua alat inderanya ( Widodo dkk: 128).
4. Menurut Sumadi Suryabrata (Khadijah, 2009 45), belajar adalah suatu proses yang memilki tiga ciri, yaitu (1) proses tersebut membawa perubahan (baik aktual maupun potensial), (2) peruahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru, dan (3) perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
Berdasarkan pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan (secara sadar) yaitu perubahan tingkahlaku di mana di dalamnya terjadi suatu interaksi antara seseorang (peserta didik) dengan lingkungannya yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku yang akan memberikan suatu pengalaman baik bersifiat psikomotorik (keterampilan), kognitifI (pengetahuan), dan afektif (sikap).

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Belajar
Hasil belajar siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor dari dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungan. Menurut Slameto (2003:54-72), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah :
a. Faktor-faktor Internal
1) Jasmaniah. Pada faktor ini terbagai menjadi tiga yaitu, faktor kesehatan, cacat tubuh, dan psikologis.
2) Psikologis. Sama halnya dengan jasmaniah, faktor psikologis sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong dan dapat mempengerahui belajar. Yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
3) Kelelahan. Kelelahan seseorang walaupun sulit dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmaniah adalah terjadi karena kekacauan sustansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar pada agian –bagian tertentu. Dan kelelahan rohaniah (psikis) yaitu dapat terlihat dari kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang..
b. Faktor-faktor Eksternal
1) Keluarga. Faktor ini adalah bagaimana cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, pengertian orang tua, latar belakang kebudayaan.
2) Sekolah. Yang mempengaruhi faktor ini mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, tugas rumah.
3) Masyarakat. Pengaruh pada faktor ini menyangkut dengan keberadaan siswa dalam masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat)

Menurut Sardiman (2007:39-47), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern (dari dalam) diri siswa dan faktor ekstern (dari luar) siswa. Begitu juga dengan pendapat Suryabrata (2002) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi 2 yaitu: faktor yang berasal dari diri pembelajar dan faktor yang berasal dari luar diri pembelajar.
Maka dari beberapa pendapat ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar peserta didik terbagi dalam dua faktor, yaitu faktor internal salah satunya kemampuan yang dimiliki siswa tentang materi yang disampaikan, sedangkan faktor eksternal salah satunya meliputi strategi pembelajaran yang digunakan pendidik di dalam proses belajar mengajar.

3. Teori-Teori Belajar
Perkembangan sebuah teori belajar tidak terlepas dari paradigma yang meliputinya. Setidaknya telah terjadi tiga kali pergantian paradigm antara lain : paradigma behavioristik, paradigma kognitif, paradigma konstuktivis.
a. Teori-teori Belajar Behevioristik
Teori behavioristik mengemukakan bahwa manusia akan belajar dan mengalami proses belajar apabila proses pembelajaran tersebut dikondisikan.
Teori belajar behavioristik di kemukakan oleh:
1) E.L. Thordike. Menekankan pada belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh peran stimulus eksternal. Belajar mempunyai 2 prinsip:
a) The law of effect
Belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulus dan respons dalam penyelesaian masalah dapat dilakukan dengan cara trial and error.

b) Low exercise
Hubungan antara stimulus dan respon akan melemah bila latihan dihentikan
2) Ivan Pavlov. Ivan Pavlov menemukan bahwa belajar yang secara alami tidak dapat menimbulkan respons tertentu, tetapi belajar dapat menimbulkan respons melalui stimulus bersyarat.
3) B.F.Skinner. Memandang bahwa reward (hadiah) atau reinforcement (penguatan) sebagai unsur yang paling penting dalam proses belajar. Skinner memilih istilah reinforcement dari pada reward karena reward diinterpretasikan sebagai tingkah laku subjektif yang dihubungkan dengan kesenangan< sedangkan reinforcement adalah istilah yang netral.

b. Teori-teori Belajar Kognitif
Ahli-ahli teori belajar kognitif berpendapat bahwa belajar adalah hasil dari usaha untuk dapat mengerti dunia. Caranya kita berfikir tentang situasi, sama baiknya kita berfikir tentang kepercayaan, harapan,m dan perasaan yang akan mempengaruhi bagaimana dan apa yang kita pelajari.
Pandangan kognitif melihat belajar sebagai sesuatu yang aktif. Mereka berinisiatif mencari pengalaman untuk belajar, mencari informasi untuk menyelesaikan masalah, mengatur kembali, dan mengorganisasi apa yang telah mereka ketahui untuk mencapai pelajaran baru. Teori belajar kognitif di kemukakan oleh:
1) Jerome Bruner. Bruner berpendapat bahwa peranan guru harus menciptakan situasi, dimana peserta didik dapat belajar sendiri dari pada memberikan suatu paket yang berisi informasi atau pelajaran kepada peserta didik
2) David Ausubel. Ausebel berpendapat bahwa faktor yang paling penting dalam mempengaruhi belajar adalah apa yang diketahui oleh peserta didik.
3) Robet Gagne. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan proses dari yang sederhana ke yang kompleks oleh sebab itu proses belajar selalu bertahap mulai dari belajar melalui tanda (signal), kemudian melalui rangsangan reaksi (stimulus respons), belajar berangkai (chaining), belajar secara verbal, belajr membedakan (discrimination), belajar konsep, sampai kepada cara belajar prinsip dan belajar untuk pemecahan masalah.

c. Teori Belajar Humanistic
Ahli-ahli teori belajar humanistic berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh bagaimana para peserta didik berfikir dan bertindak, teori tersebut juga dipengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan mereka ambil dari pengalaman belajar mereka.
Teori belajar humanistic di kemukakan oleh:
1) Maslow
Maslow mengemukakan bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk tingkat yang paling rendah yaitu tingkat untuk bisa survive atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling penting. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan untuk memiliki dan di cintai serta kebutuhan akan harga diri dalam kelompok mereka sendiri.
2) Rogers
Rogers menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi lebih personal dan berarti. Prinsip penting belajar menurut rogers adalah
a) Keinginan untuk belajar
b) Belajar secara sigifikan
c) Belajar tanpa ancaman
d) Belajar atas inisiatif sendiri
e) Belajar dan berubah

D. Intelegensi
1. Pengertian Intelegensi
Secara etimologis intelegensi berasal dari bahasa Inggris “Intelligence” yang juga berasal dari bahasa Latin yaitu “Intellectus dan Intelligentia”. Teori tentang intelegensi pertama kali dikemukakan oleh Spearman dan Wynn Jones Pol pada tahun 1951. Spearman dan Wynn mengemukakan adanya konsep lama mengenai suatu kekuatan (power) yang dapat melengkapi akal pikiran manusia tunggal pengetahuan sejati. Kekuatan tersebut dalam bahasa Yunani disebut dengan “Nous”, sedangkan penggunaan kekuatannya disebut “Noeseis”(Sutisna: 2010).
Heindentich menjelaskan pengertian atau definisi intekegensi sebagai berikut:
“Intellegence refers to the ability to learn and to utilize what has been learned in adjusting to unfamiliar situations, or in he solving of problems” (Intelegensi menyangkut kemampuan untuk belajar dan menggunakan apa yang telah dipelajari dalam usaha penyesuaian terhadap situasi-situasi yang kurang dikenal, atau dalam pemecahan-pemecahan masalah).
Jadi, dipahami bahwa intelegensi adalah kemamapuan seseorang dalam belajar dalam memahami sesuatu, juga usaha penyesuaian atas situasi-situasi yang kurang atau bahkan belum dikenal, serta usaha dalam menyelesaikan suatu masalah.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi intelegensi
a) Faktor Bawaan atau keturunan
Faktor ini ditentukan oleh sifat yang dibawa sejak lahir. Penelitian membuktikan bahwa korelasi nilai tes IQ dari satu keluarga sekitar 0,50. Sedangkan di antara 2 anak kembar, korelasi nilai tes IQnya sangat tinggi, sekitar 0,90. Bukti lainnya adalah pada anak yang diadopsi. IQ mereka berkorelasi sekitar 0,40 – 0,50 dengan ayah dan ibu yang sebenarnya, dan hanya 0,10 – 0,20 dengan ayah dan ibu angkatnya. Selanjutnya bukti pada anak kembar yang dibesarkan secara terpisah, IQ mereka tetap berkorelasi sangat tinggi, walaupun mungkin mereka tidak pernah saling kenal.

b) Faktor Minat dan Pembawaan Khas
Faktor minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Dalam diri manusia terdapat dorongan atau motif yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar,sehingga apa yang diminati oleh manusia dapat memberikan dorongan untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. Intelegensi bekerja dalam situasi yang berlain-lainan tingkat kesukarannya. Sulit tidaknya mengatasi persoalan ditentukan pula oleh pembawaan.

c) Faktor Pembentukan atau Lingkungan
Pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. Di sini dapat dibedakan antara pembentukan yang direncanakan, seperti dilakukan di sekolah atau pembentukan yang tidak direncanakan, misalnya pengaruh alam sekitarnya. Walaupun ada ciri-ciri yang pada dasarnya sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan sanggup menimbulkan perubahan-perubahan yang berarti.
Inteligensi tentunya tidak bisa terlepas dari otak. Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang dikonsumsi. Selain gizi, rangsangan-rangsangan yang bersifat kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang amat penting.

d) Faktor Kematangan
Tiap organ dalam tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Setiap organ manusia baik fisik mauapun psikis, dapat dikatakan telah matang, jika ia telah tumbuh atau berkembang hingga mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing.
Kecerdasan tidak tetap statis, tetapi cepat tumbuh dan berkembang. Tumbuh dan berkembangnya intelegensi sedikit banyak sejalan dengan perkembangan jasmani, umur dan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai (kematangannya).

e) Faktor Kebebasan
Hal ini berarti manusia dapat memilih metode tertentu dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Di samping kebebasan memilih metode, juga bebas dalam memilih masalah yang sesuai dengan kebutuhannya.

3. Beberapa teori-teori intelegensi adalah:
a. Teori General Intellegence dari Spearman adalah General ability atau general faktor (faktor “g”) dan Special ability atau special faktor (faktor “s”)
b. Teori intelegensi dari Cattel.Menurut Cattel, ada dua macam unsur kecerdasan umu, yaitu intelegensi fluid dan yang kristal.
c. Teori Structure of Intellegence dari Guilford. Menyarankan bangunan perpaduan berbagai unsur kecerdasan dalam bentuk kuus matriks yang dinamakan Structure of Intellect (SOI).
d. Teori Multiple Intellegence dari Gardner, yaitu intelegensi manusia memiliki tujuh dimensi, sebagai berikut ini:
1) Linguitic Intellegence, yaitu sensitivitas terhadap makna dan susunan kata-kata dan penggunaan bahasa yang bervariasi.
2) Logical-mathematical intellegence, yaitu kemampuan untuk mengerjakan rangkaian logika yang panjang dan mengenali pola dan susunan realitas
3) Misical Intellegencei, yaitu sensivitas terhadap pola musik, melodi, dan nada.
4) Saptial intellegence, yaitu kemampuan untuk merasakan dunia visual secara akurat, dan menciptakan kembali, mentranformasi, atau memodifikasi aspek-aspek realitas atas dasar persepsi.
5) Bodily-kinesthetic intellegence, yaitu kemampuan menggunakan tuuh dengan baik dan menghandle objek
6) Interpersonal Intellegence, yaitu kemampuan untuk menjalin hubungan baik dengan orang lain
7) Interpersonal Intellegence, yaitu kemampuan untuk mengakses kehidupan internal sendiri.

e. Triarchic theory of intellegence dari Sternberg.
Sejalan dengan Gardner, Stenberg juga menggunakan perpsektif multi-kemampuan dalam memandang intelegensi. Stenberg memandang intelegensi manusia dapat dipisahkan ke dalam proses-proses komponen yang mempengaruhi cara individu berfikir dan memecahkan masalah. Teori ini terdiri dari tiga bagian, yaitu; 1) komponen-komponen pemrosesan, 2) komponen-komponen kontekstual, dan komponen-komponen pengalaman.
Intelegensi berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik. Hal ini sesuai dengan pendapat Dalyono (1997) yang mengatakan bahwa seseorang yang memiliki intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi akademiknya pun rendah.

4. Macam-macam Intelegensi
Terdapat beberapa macam intelegensi, yaitu:
a) Intelegensi Terikat dan Bebas
Intelegensi terikat adalah intelegensi suatu makhluk yang bekerja dalam situasi-situasi pada lapangan pengamatan yang berhubungan langsung dengan kebutuhan vital yang harus segera dipuaskan. Misalnya intelegensi binatang dan anak-anak yang belum berbahasa. Intelegensi bebas terdapat pada manusia yang berbudaya dan berbahasa. Dengan intelegensinya orang selalu ingin mengadakan perubahan-perubahan untuk mencapai suatu tujuan. Kalau tujuan sudah dapat dicapai, manusia ingin mencapai tujuan yang lebih tinggi dan lebih maju.

b) Intelegensi Menciptakan (Kreatif) dan Meniru (Eksekutif).
Intelegensi mencipta ialah kesanggupan menciptakan tujuan-tujuan baru dan mencari alat-alat yang sesuai guna mencapai tujuan itu. Intelegensi keatif menghasilkan pendapat-pendapat baru seperti : kereta api, radio, listrik dan kapal terbang.Sedangkan intelegensi meniru adalah kemampuan menggunakan dan mengikuti pikiran atau hasil penemuan orang lain, baik yang dibuat, diucapkan maupun yang di tulis.

5. Pengaruh intelegensi terhadap keberhasilan belajar
Masyarakat sering kali menilai IQ (Intelligence Quotient) disamakan dengan intelegensi (kecakapan). Padahal IQ hanya mengukur sebagian kecil dari kecakapan. Justru anak yang cerdas itu adalah anak yang bereaksi secara logis dan berguna terhadap apa yang dialaminya di lingkungannya, anak yang memiliki potensi intelegensia dan kepribadian yang bagus mudah menerima aneka pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa setiap anak memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda sehingga mempunyai kecepatan yang berbeda-beda dalam menangkap pelajaran, hal ini mempengaruhi kemampuan belajar peserta didik. Intelegensi diyakini sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar seseorang, untuk itu yang terpenting dalam hal ini adalah pendidik harus bisa lebih bijakasana dalam menyikapi perbedaan intelegensi setiap peserta didiknya.
6. Implikasi intelegensi dalam pendidikan atau pembelajaran :
1) Dengan kreatifitasnya guru mengawali pembelajaran dengan apersepsi-apersepsi yang sesuai dengan pembelajaran. Sehingga tujuannya dapat merespon emosi peserta didik dalam belajar.
2) Pemberian dorongan atau motivasi dengan memberikan penjelasan dan contoh pengalaman-pengalaman yang menarik atau dengan menggunakan media yang dapat membangkitakan semangat belajar peserta didik.
3) Adanya evaluasi bertujuan untuk mengetahui batasan yang dicapai oleh peserta didik dari hasil pembelajaran sebelumnya.
E. Motivasi Belajar
1. Konsep Motivasi
Istilah motivasi terkadang sering dibedakan pengertiannya dengan istilah motif. Motif adalah daya penggerak di dalam diri orang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan tertentu (Winkel, 1996), sedangkan menurut Azuan (dalam Irfan, dkk, 2000) motif adalah suatu keadaan, kebutuhan, dan atau dorongan dalam diri seseorang yang disadari/tidak disadari yang membawa kepada terjadinya suatu perilaku.
Berikut ini beberapa pengertian motivasi menurut tokoh pendidikan, yaitu :
a) Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang menggerakkan dan medorong terjadinya perilaku yang diarahkan pada tujuan tertentu;
b) Menurut Eggen dan Kauchak (dalam Khadijah, 2009), motivasi sebagai kekuatan yang memberi energi, menjaga kelangsungannya dan mengarahkan perilaku terhadap tujuan;
c) Menurut Mc. Donald (Hamalik, 1981), motivasi adalah perubahan energi pada dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan;
d) Menurut Petri (dalam Khadijah, 2009), motivasi adalah kekuatan yang bertindak pada organisme yang mendorong dan mengarahkan perilakunya.

Jadi, motivasi adalah suatu pendorong yang mengubah energi dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi bukanlah hal yang dapat diamati, tetapi merupakan hal yang dapat disimpulkan karena sesuatu yang dapat kita saksikan. Tiap aktivitas yang dilakukan oleh seseorang itu didorong oleh sesuatu kekuatan dari dalam dirinya sendiri, kekuatan pendorong inilah yang kita sebut motif.
Pencapaian suatu keberhasilan dalam hidup dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri. Misalnya, keberhasilan dalam pembelajaran dibutuhkan suatu motivasi dari dalam diri si pembelajar itu sendiri. Oleh karena itu, motivasi belajar memegang peranan penting dalam memberikan gairah atau semangat dalam belajar sehingga siswa yang bermotivasi tinggi memiliki energi banyak untuk melakukan kegiatan belajar.
Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Motivasi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar peserta didik. Motivasi adalah aspek penting dari prinsip pengajaran dan pembelajaran. Peserta didik yang tidak memiliki motivasi tidak akan berusaha keras untuk belajar, sedangkan peserta didik yang memiliki motivasi yang tinggi akan lebih antusias dan semangat untuk mengikuti proses pembelajaran.
Kerangka motivasi, secara umum dapat digambarkannya sebagai berikut di bawah ini:
Motivasi Perilaku Tujuan

2. Teori-teori Motivasi
Menurut Morgan, dkk (dalam Khadijah, 2009) ada empat teori motivasi, yaitu :
a) Teori Drive (Teori Dorongan Motivasi).Menurut teori ini motivasi terdiri dari:
(1) Kondisi tergerak;
(2) Perilaku diarahkan ke tujuan yang diawali dengan kondisi tergerak;
(3) Pencapaian tujuan secara tepat;
(4) Reduksi kondisi tergerak dan kepuasan subjektif;
(5) Kelegaan tatkala tujuan tercapai.

b) Teori Insentif (Teori pull atau tarikan)
Teori insentif adalah individu mengharapkan kesenangan dari pencapaian dari apa yang disebut insentif positif dan menghindari apa yang disebut insentif negatif.
c) Teori Opponent Process.
Bahwa manusia dimotivasi untuk mencari tujuan yang memberi perasaan emosi senang dan menghindari tujuan yang menghasilkan ketidaksenangan
d) Teori Optimal Level
Menurut teori ini individu dimotivasikan untuk berperilaku dengan cara tertentu untuk menjaga level optimal pembangkitan yang menyenangkan.

Menurut Elliot, dkk (dalam Khadijah, 2009), ada empat teori motivasi yang saat ini banyak dianut, yaitu:
1) Teori Hirarki Kebutuhan Maslow. Menurut teori ini, orang termotivasi terhadap suatu prilaku.
2) Teori Kognitif Bruner. Bruner berpendapat bahwa untuk membangkitkan motivasi adalah discovery learning. Siswa dapat melihat makna pengetahuan, keterampilan, dan sikap bila mereka menemukan semua itu sendiri.
3) Teori Kebutuhan Berprestasi (need Achievementtheory)
Mc. Clelland (dalam eliot, 1996) menyatakan bahwa individu yang memiliki kebutuhan untuk berprestasi adalah mereka yang berupaya mencari tantangan, tugas-tugas yang cukup sulit, dan ia bisa melakukan dengan baik.
4) Teori Atribusi
Teori ini bersandar pada tiga asumsi dasar (petri, dalam elliot, dkk, 1996), yaitu :
(1) Orang ingin tahu penyebab prilakunya dan prilaku orang lain, terutama prilaku yang penting bagi mereka;
(2) Mereka tidak menetapkan penyebab perilaku mereka secara random;
(3) Penyebab perilaku yang di tetapkan individu mempengaruhi perilaku berikutnya.

5) Teori Operant Conditioning Skinner
Menurut Skinner, perilaku dibentuk dan dipertahankan oleh konsikuensi dari perilaku sebelumnya mempengaruhi perilaku yang sama.

6) Teori Social Kognitif Learning
Menurut Bandura (Elliot, dalam Khadijah, 2009), orang belajar berperilaku dengan cara mencontoh. Perilaku orang lain yang dianggap berkompeten disebut model.

3. Prinsip-prinsip Motivasi
Salah satu fungsi pengajar adalah memberikan motivasi kepada pihak yang diajarkan untuk melaksanakan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin secara efektif dan produktif. Berikut ini adalah beberapa prinsip motivasi menurut Kennet H. Hover (Surya, 2004), yaitu :

a) Prinsip Kompetisi
b) Prinsip Pemacu
c) Prinsip Ganjaran dan Hukuman
d) Kejelasan dan Kedekatan Tujuan
e) Pemahaman Hasil
f) Pengembangan Minat
g) Lingkungan yang Kondusif
h) Keteladanan

4. Faktor-faktor Krisis Motivasi
Dewasa ini, di kalangan tenaga-tenaga pendidik banyak dibicarakan/disinyalir terjadinya “Krisis Motivasi Belajar” lebih-lebih di sekolah menengah atau kalangan remaja. Gejala tersebut ditunjukan dengan kenyataan berkurangnya perhatian siswa pada waktu pelajaran, kelalaian dalam mengerjakan pekerjaan rumah, penundaan persiapan bagi ulangan atau ujian sampai saat terakhir (belajar musiman), pandangan asal lulus cukup, dan lain-lain.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan daya penggerak dalam diri individu yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan yang memberikan arah kepada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai (Sardiman, 1990). Jika individu mempunyai motivasi belajar yang tinggi, maka individu tersebut akan mencapai prestasi yang baik.

5. Motivasi Belajar
Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar demi mencapai suatu tujuan. Motivasi ini timbul karena adanya kebutuhan yang mendorong individu atau untuk melakukan tindakan yang terarah kepada suatu tujuan, sehingga dalam bentuk yang sederhana.

6. Jenis-jenis Motivasi Belajar
Menurut Winkel (dalam Khadijah, 2009), berdasarkan sumbernya motivasi belajar dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu :
1) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang timbul karena ada rangsangan atau bantuan dari orang lain.
2) Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik merupakan motivasi yang timbul dari diri orang yang bersangkutan tanpa rangsangan atau bantuan dari orang lain.

7. Ciri-ciri Motivasi Belajar
Menurut teori psikoanalisa Freud (Sardiman, 1990), ciri-ciri motivasi yaitu :
1) Tekun menghadapi tugas, artinya dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai;
2) Ulet menghadapi kesulitan, artinya tidak lekas putus asa;
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah;
4) Lebih senang bekerja sendiri;
5) Cepat bosan terhadap tugas rutin;
6) Dapat mempertahankan pendapatnya jika sudah yakin akan sesuatu;
7) Tidak mudah melepaskan hal-hal yang sudah diyakini;
8) Suka mencari dan menyelesaikan masalah.

8. Fungsi Motivasi Belajar
Fungsi motivasi belajar menurut Mosely (Hamalik, 2005) adalah sebagai berikut :
1) Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan (tanpa motivasi maka tidak akan timbul suatu perbuatan seperti belajar);
2) Motivasi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan ke pencapaian tujuan yang diinginkan;
3) Motivasi sebagai penggerak, berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Artinya besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

9. Hal-hal yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Menurut Lashley (dalam Khadijah, 2009), faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi adalah sebagai berikut :
1) Faktor fisiologis, antara lain yaitu kelelahan baik kelelahan mental maupun fisik;
2) Emosi atau yang disebut dengan kondisi yang termotivasi. Emosi meningkatkan keinginan seseorang melakukan sesuatu;
3) Kebiasaan yang bisa menjadi motivator;
4) Mental sets, nilai dan sikap individu;
5) Faktor lingkungan dan insensif.

10. Peran Motivasi Dalam Mencapai Keberhasilan Belajar
Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non interlektul. Dengan demikian, motivasi memiliki peran strategis dalam belajar, baik pada saat akan mulai belajar, saat sedang belajar, maupun pada saat berakhirnya pembelajaran. Agar perannya lebih optimal, maka prinsip-prinsip motivasi dalam aktivitas belajar harus dijalankan.
Motivasi merupakan salah satu unsur dalam mencapai keberhasilan yang optimal selain kondisi kesehatan secara umum, intelegensi, bakat, dan minat. Seorang anak didik bukan tidak bisa mengerjakan sesuatu, tetapi ketidakbiasaan itu disebabkan oleh kemauan yang tidak terlalu banyak terhadap pekerjaan itu. Motif yang kurang menyebabkan dorongan dan kemauan tidak kuat, sehingga hasil kerjanya tidak sesuai dengan kecakapan. Jadi, semakin besar atau kuat motivasi yang dimiliki peserta didik maka semakin besar pencapaian keberhasilan belajar yang dimilikinya.

F. Memori
1. Konsep Memori
Kamus Lengkap Psikologi (Chaplin, 1999 dalam Khadijah, 2009) mendefinisikan memori adalah :
a) Fungsi yang terlibat dalam mengenang atau mengalami lagi pengalaman masa lalu
b) Keseluruhan pengalaman masa lampau yang dapat diingat kembali
c) Satu pengalaman masa lalu yang khas

Beberapa ahli mendefinisikan memori, sebagaimana berikut ini :
1) Kartono dalam Khadijah, 2009 Memori yaitu :
Kemampuan untuk mencamkan, menyimpan, dan mereproduksi kembali hal-hal yang pernah diketahui.
2) Walgito dalam Khadijah, 2009
Memori adalah kemampuan jiwa untuk memasukkan (learning), menyimpan (retention) dan menimbulkan kembali (remembering) hal-hal yang telah lampau
3) Santrock,
Menyatakan bahwa memori terdiri dari tiga tahap yaitu:
a. Encoding (pengkodean) : memasukkan informasi ke dalam memori
b. Storage (penyimpanan) : mempertahankan informasi dari waktu ke waktu.
c. Retrieval (pengambilan) : mengambil informasi dari gudang memori

2. Mekanisme Memori
Pembentukan memori secara biologi, merupakan hal yang sangat kompleks yang terutama diperankan oleh sistem saraf yang berpusat di otak. Analogi pembentukan memori adalah seperti kerja suatu komputer. Mula-mula, komputer dihidupkan, kemudian seorang operator mulai menuliskan sesuatu misalnya dalam bentuk (format) file Microsoft Word.
Proses mengolah informasi atau data sedemikian rupa dalam file ini disebut encoding atau menyesuaikan data dengan sistem memori komputer tersebut. Selama seseorang mengetik data, komputer akan menyimpan data tsb dalam memori jangka pendek yang terletak dalam random access memory (RAM). Makin besar RAM maka makin besar kemampuan komputer tersebut menyimpan data dalam jangka pendek. Umumnya computer memiliki RAM 512 megabyte (mb) atau 1024 mb. Sebelum mengakhiri pengerjaan file tersebut, maka file disimpan dalam disk (hard disc) dalam bentuk memori permanen atau long term memory. Penyimpanan biasanya dilakukan dengan memberi notasi atau nama file dan meletakkan dalam suatu tempat atau folder. Sewaktu-waktu, orang tersebut dapat mengakses atau membuka kembali file yang telah disimpan tersebut (retrieval).
Pusat dari proses mengingat di otak terletak pada area hippocampus. Secara sederhana, proses pembentukan memori atau proses terbentuknya ingatan dimulai dari adanya stimuli berupa audio, visual dan taktil (sentuhan) yang akan ditangkap oleh indra kita. Sebagian dari stimuli tersebut akan di-encoded dan sebagian tidak. Stimuli atau data yang di-encoded akan disimpan dalam bentuk short term memory atau immediate memory atau serupa pada RAM komputer. Selanjuitnya data akan di-encoded untuk kedua kalinya dan kemungkinan diperkaya dengan pengalaman atau memori yang telah ada sebelumnya atau nilai/kepercayaan yang telah ada untuk disimpan dalam bentuk long term memory atau setara disimpan dalam hard disc komputer. Proses pengayaan dengan nilai tertentu tersebut setara dengan penamaan atau notasi file pada komputer.
Kemampuan manusia memberi makna atau nilai pada memori yang disimpan tersebut merupakan bukti keluhuran manusia dibandingkan makhluk lainnya. Sehingga jika kita buat suatu komparasi misalnya, anjing dan manusia melihat seorang pencuri, maka secara sederhana-mungkin secara naluri, anjing akan menggongong. Berbeda dengan anjing, manusia yang melihat pencuri tersebut akan memproses data yang dilihatnya kemudian memanggil kembali memori jangka panjang yang telah diperkaya dengan makna atau nilai tertentu untuk kemudian membuat suatu konsep tentang pencuri. Berdasarkan konsep inilah maka manusia bertindak, misalnya menangkap, menyidik, mengadili dan menghukum atau memaafkan.

3. Memori dan Belajar
Proses pembelajaran yang baik adalah proses yang secara nyata mengaktifkan pembelajar atau peserta didik untuk mendapat berbagai stimuli agar terbentuk suatu proses memori yang demikian aktif yang pada akhirnya akan memperkaya pembelajar tersebut. Pembelajar tersebut akan menjadi lebih cerdas karena ia memiliki kekayaan pengalaman terstruktur yang demikian banyak. Suatu saat, memori yang berbentuk pengalaman yang telah disusun rapih dalam bentuk memori jangka panjang (pengalaman terstruktur) tersebut dapat dipanggil atau diakses untuk membuat konsep atau mnemecahkan masalah yang muncul. Tidak mengherankan, jika seorang pembelajar yang kaya memori atau pengalaman terstruktur tersebut akan mampu membuat suatu konsep atas suatu masalah atau fenomena atau memberi pendapat tentang pemecahan masalah tertentu atau dengan mudah mengerjakan berbagai ujian (test).
Stimuli beragam yang akan mengaktifkan seorang pembelajar dalam memproses suatu memori dapat berupa data atau elemen psikologi, persepsi, fisiologi, lingkungan, emosi dan sosial. Dengan bimbingan seorang guru maka seorang pembelajar atau pelajar akan mampu menyimpan memori yang di-encoded dengan baik. Memori yang disimpan dalam encoding yang baik akan lebih mudah diakses kembali dan lebih mudah digunakan untuk membuat suatu konsep atau memecahkan suatu masalah.
Peningkatan memori dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya: Mempelajari sesuatu berulang-ulang, menyediakan waktu lebih banyak untuk rehearsing atau mengulang encoding data tertentu, membuat bahan/materi yang memiliki arti atau kesan spesifik/tertentu, menggunakan mnemonic devices seperti cerita, akronim, mengaktifkan retrieval cues- rekreasi mental, me-recall peristiwa ketika masih segar (fresh) kemudian menuliskan sebelum terjadi gangguan (interference), meminimalisir interference dan melakukan ujian (test) terhadap diri sendiri tentang apa yang mungkin membuat kita lupa.

G. Emosi
1. Pengertian Emosi
Pengertian emosi dirumuskan secara bervariasi oleh para ahli psikologi dengan orientasi yang berbeda. William James mendefinisikan emosi sebagai keadaan budi rohani yang menampakan dirinya dengan suatu perubahan yang jelas pada tubuh. Goleman (1999) mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan biologis dan psikologi dan serangkaian kecendrungan untuk bertindak. Kleinginna dan Kleinginna ( dalam Morgan dkk, 1986 ) mencatat ada 92 definisi yang berbeda tentang emosi. Namun disepakati bahwa keadaan emosional adalah suatu reaksi kompleks yang melibatkan kegiatan dan perubahan yang mendalam serta dibarengi dengan perasaan yang kuat.

2. Macam-macam Emosi
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurutnya emosi terbagi atas : Desire (hasrat), Hate (benci), Sorrow(sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta), dan Joy ( kegembiraan ). J.B. Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : Fear (ketakutan), Rage (kemarahan), dan Love (cinta). Daniel Goleman ( 2002 : 411 ) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dari tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah : beringas, mengamuk, benci, jengkel, dan kesal hati.
b. Kesedihan : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi, dan putus asa.
c. Rasa takut : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, dan ngeri
d. Kenikmatan : bahagis, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, dan bangga.
e. Cinta : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, dan kasih.
f. Terkejut : terkesiap, terkejut.
g. Jengkel : hina, jijik, muak, mual, dan tidak senang.
h. Malu : malu hati dan kesal.

Seperti yang diuraikan di atas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertinda. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada.

3. Beberapa teori emosi:
1) Teori sentral
Menurut teori atau pendapat ini gejala kejasmanian merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, jadi individu mengalami emosi terlebih dahulu beru kemudian mengalami perubahan-perubahan dalam kejasmaniannya. Teori ini dikemukakan oleh Cannon. (Walgito, Bimo. 1997: 148)
2) Teori periferal
Menurut pendapat atau teori ini gejala-gejala kejasmanian bukanlah merupakan akibat dari emosi yang dialami oleh individu, tetapi melahan emosi yang dialami oleh individu merupakan akibat gejala-gejala kejasmanian. Teori ini dekemukakan oleh James, yang bersamaan waktunya juga dikemukan oleh lange. Oleh karena itu teori sering dikenal dengan teori James-Lange dalam emosi. (Walgito, Bimo. 1997: 148)
3) Teori kepribadian
Menurut pendapat atau teori ini ialah bahwa emosi merupakan suatu aktivitas pribadi, di mana pribadi ini tidak dapat dipisah-pisahkan dalam jasmani dan psikis sebagai dua substansi yang terpisah. Karena itu maka emosi meliputi pula perubahan-perubahan kejasmanian misalnya apa yang dikemukakan oleh J. Linhonten. (Walgito, Bimo. 1997: 148)

4. Pengaruh Emosi Dalam Belajar
Emosi berpengaruh besar pada kualitas dan kuantitas belajar ( Meier, 2000 ). Emosi yang positif dapat mempercepat proses belajar dan mencapai hasil yang lebih baik, sebaiknya emosi yang negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikan sama sekali. Penjelasan tentang hal ini dapat diambil dari teori modern tentang struktur dan cara kerja otak, yaitu teori Otak Triune. Menurut teori ini, otak manusia terdiri dari tiga bagian dan pemanfaatan seluruh bagian otak dapat membuat belajar lebih cepat, lebih menarik, dan lebih efektif. Dari ketiga bagian otak tersebut, bagian otak yang memainkan peran dalam belajar adalah neokorteks, sedang yang memainkan peran dalam emosi adalah sistem limbik. Jika siswa mengalami emosi positif, maka sel-sel syaraf akan mengirim impuls-impuls positif ke neokorteks dan proses belajarpun dapat terjadi. Sebaliknya, jika siswa mengalami emosi negatif, maka tertutup kemungkinan untuk timbulnya impuls-impuls yang mendorong belajar, tetapi yang terjadi adalah meningkatnya fungsi mempertahanan diri terhadap emosi yang tidak menyenangkan. Akibatnya, proses belajar menjadi lamban atau bahkan terhenti.
Pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri pelajar. Jika siswa mengalami emosi positif, mereka dapat menggunakan neokorteks untuk tugas-tugas belajar. Untuk menciptakan emosi positif pada diri siswa dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya adalah dengan menciptakan lingkungan yang menyenangkan. Lingkungan yang dimaksud disini mencangkup lingkungan fisik dan lingkungan psikologis. Lingkungan fisik mencangkup penataan ruang kelas dan penggunaan alat bantu belajar, sedangkan lingkungan psikologi mencakup penggunaan musik untuk meningkatkan hasil belajar. Penataan ruang kelas, seperti penataan tempat duduk, pajangan, dan penyediaan wewangian, memainkan peranan penting dalam menciptakan emosi positif dalam belajar. Bayangkan jika siswa masuk ke kelas yang pengap dan bau, dengan dinding kosong tanpa pajangan, serta susunan bangku yang membosankan, maka sulit diharapkan mereka dapat mencapai hasil yang optimal

5. Kecerdasan Emosi
Emosional Intelligence atau kecerdasan emosi diperkenalkan pertama kali oleh peter Salovey dari Harvard University dan John mayer dari University Of New Hampshire ( Mujib dan Mudzakir, 2002 ). Istilah ini kemudian menjadi sangat terkenal diseluruh dunia semenjak seorang psikolog New York bernama Daniel goleman menerbitkan bukunya yang berjudul emotional Intelligence : Why It Can Matter More Than IQ pada tahu 1995.
Goleman menyatakan bahwa kecerdasan umum ( intelegensi ) semata-mata hanya dapat memprediksikan ( meramalkan ) kesuksesan hidup seseorang sebanyak 20 % saja, sedangkan 80 % lainnya adalah apa yang disebut Emosional Intelligence. Bila tidak ditunjang dengan pengelolaan emosi yang sehat, kecerdasan saja tidak akan menghasilkan seseorang yang sukses hidupnya dimasa yang akan datang ( Goleman, 1999 ). Menurut salovey dan Mayer ( dalam Mudjib dan Mudzakir, 2002 ), kecerdasan emosi adalah kemampuan mengenali emosi diri sendiri, mengelola dan mengekspresikan diri sendiri dengan tepat, memotivasi diri sendiri, mengenali orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Dengan demikian kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya secara sehat terutama dalam berhubungan dengan orang lain.
Unsur terpenting dalam kecerdasan emosi ini adalah empati dan kontrol diri. Empati artinya adalah dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain terutama bila orang lain dalam keadaan malang. Kontrol diri adalah kemampuan untuk mengendalikan emosi sendiri sehingga tidak mengganggu hubungannya dengan orang lain.
Kecerdasan emosi perlu ditumbuhkan sejak kecil melalui naskah emosi yang sehat. Tujuan mengajarkan naskah emosi yang sehat ini adalah agar dapatbdiinternalisasikan anak sejak dini dan dibawa terus oleh anak dalam berinteraksi dengan orang lain bila kelak ia dewasa.
Menurut Wimbarti ( dalam Irfan dkk, 2002 ) ada beberapa cara yang dapat dilakukan, baik oleh orang tua maupun guru dalam rangka mengajarkan naskah emosi yang sehat pada anak, diantaranya :
1) Ajarkan nilai-nilai budaya setempat di mana anak hidup. Apabila anak hidup di Yogyakarta, tanamkan nilai budaya Jawa dengan benar meskipun orang tuanya berasal dari daerah lain.
2) Kenali dulu emosi-emosi anak yang menonjol, baru ajarkan anak untuk mengenali emosi-emosi itu.
3) Berilah nama dari emosi anak yang menonjol. Misalnya : anak yang sering menangis apabila yang dimauinya tidak segera dituruti. Katakan padanya bahwa ia marah, dan kita tahu bahwa dia marah karena kehendaknya tidak terkabul.
4) Kenalkan anak tentang emosi anda dengan cara lain selain kata-kata. Ekspresikan emosi anda dengan bahasa tubuh atau dengan ekspresi wajah. Misalnya : rangkullah dia bila sedang duduk berdua, cium dia bila anda juga sedang berbahagia, dekap dia bila sedang sedih, cemberutkan wajah bila kita tidak berkenan dengan perlakuannya, dan sebagainya.
5) Buatlah disiplin yang konsisten pada diri kita agar anak belajar menghormati otoritas. Menghormati otoritas sangat diperlukan untuk menghindarkan ia dari tindakan yang tidak benar.
6) Ajarkan pada anak ekspresi emosi yang dapat diterima oleh lingkungan. Misalnya perasaan sedih karena tidak dapat membeli sesuatu tidak boleh diekpresikan dengan menangis meraung-raung di toko. Bahwa apabila ada tetangga yang meninggal jangan menghidupkan radio keras-keras, bila ia sedang berbahagia jangan tertawa terbahak-bahak sampai langit-langit mulut terlihat lawan berbicara.
7) Tunjukan prilaku kita sendiri yang dapat di imitasi / ditiru oleh anak secara langsung. Misalnya : memberi sedekah pada pengemis, mengajaknya ke panti asuhan.
8) Pupuk rasa empati dengan memelihara ternak atau hewan peliharaan lain. Ajak anak mengamati tingkah laku hewan dan mendiskusikan kira-kira hewan itu sedang merasakan apa.

H. Berfikir
1. Pengertian berpikir
Berbicara masalah berpikir terdapat beberapa pendapat diantaranya : definisi yang paling umum berpikir adalah berkembangnya ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan didalam diri seseorang. Dalam proses berpikir ada dinamika gerak dari adanya gangguan suatu keraguan (irritation of doubete) atas kepercayaan atau keyakinan selama ini dipegang,lalu terangsang utk melakukan penyelidikan (inquiry)kemudian diakhiri dengan pencapaian suatu keyakinan baru.(Charles S. Piere, http:re-searchengines.com)
Dari pengertian tersebut (Nyanyu Khodijah, 2006:118) bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu:
1) Berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku
2) Berperilaku merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam system kognitif
3) Berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
Dari beberapa penjelasan diatas bahwa berpikir pada dasarnya adalah proses psikologis kemampuan berpikir pada manusia yang alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang relatif berbeda.

2. Jenis Tipe Berpikir
Ada berbagai jenis dan tipe berpikir, menurut Morgan (dalam buku Nyanyu Khodijah 2006) membagi dua jenis berpikir, yaitu berpikir secara autistik dan berpikir langsung. Berpikir autistik (autistic thinking) yaitu proses berpikir yang sangat pribadi menggunakan simbol-simbol dengan makna yang sangat pribadi contohnya adalah mimpi. Berpikir secara langsung adalah berpikir untuk memecahkan masalah.
Tentunya ada banyak sekali para ahli yang mengutarakan pendapatnya tentang berpikir diantaranya :
a. Berpikir Alamiah
Yaitu pola penalaran yang berdasrkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekitarnya. Misal penalaran tentang panasnya api yang dapat membakar kayu.
b. Contoh berpikir yang menggunakan penalaran berdasarkan penalaran tertentu secara teratur dan cermat, misal: dua hal yang bertentangan penuh tidak dapat sebagai sifat tertentu pada saat yang sama dalam satu kesatuan.(http://psikologi.or.id). Sedangkan menurut De Bono (1989 dalam buku Nyanyu Khodijah, 2006:119) mengemukakan dua tipe berpikir, yaitu:
1) Berpikir Vertikal (berpikir konvergen) yaitu tipe berpikir tradisional dan generative yang bersifat logis dan matematis dengan mengumpulkan dan menggunakan informasi yang relevan.
2) Berpikir Lateral (berpikir divergen) yaitu tipe berpikir selektif dan kreatif yang menggunakan informasi bukan hanya untuk kepentingan berpikir tetapi juga untuk hasil dan dapat menggunakan informasi yang relevan atau boleh salah dalam beberapa tahapan untuk mencapai pemecahan yang tepat.
Ada banyak jenis dan tipe berpikir menurut pendapat para ahli, terlepas dari itu semua yang telah dijelaskan masing-masing mempunyai unsure kelebihan atau kekurangan bahkan kesamaan dari tiap-tiap jenis dan tipe berpikir.

3. Proses Berpikir
Menurut teori Freud, pikiran terdiri dari ide, ego dan super ego. Psikologi Abraham Maslow melihat pikiran sebagai suatu yang terdiri dari sejumlah bagian yang terintegrasi, bukan terpisah-pisah (Jemes J. 2003:157). Proses berpikir dilakukan dengan menggunakan bayangan (image) dan bahasa berdasarkan informasi yang disimpan dalam long-trem-memory. Ketika menggunakan image untuk berpikir, orang biasanya membuat peta visual tentang masalah yang dipikirkan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Sedangkan ketika menggunakan bahasa yang digunakan bahasa untuk berpikir, orang sering menggunakan symbol kata-kata maknanyadan aturan tata bahasa untuk disimpan bersama-sama dalam memory (Morgan dkk dalam buku Nyanyu Khodijah 2006).
Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah yaitu:
a. Pembentukan Pengertian
b. Pembentukan Pendapat
c. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
4. Pengaruh berpikir pada belajar dan implikasinya dalam pendidikan
Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi siswa agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin terhadap lingkungannya.
Berbagai penelitan tentang berpikir memiliki implikasi dalam praktek pendidikan antara lain:
a) Untuk membantu siswa dalam mencapai penguasaan keterampilan, guru dapat menggunakan metode-metode.
b) Guru harus menggukan pendekatan-pendekatan mengajar yang sessuai dengan tujuan
c) Guru harus mengajar materi pelajaran yang sesuai dengan konteksnya
d) Untuk menghindari dekontekstualisasi guru harus membuat siswa mengatasi berbagai masalah-masalah nyata, tapi indentik dengan tujuan yang diharapkan
e) Siswa perlu diminta mengklasifikasikan segala sesuatu ke dalam kategori-Kategori dan dimensi-dimensi membuat hipotesi, menarik kesimpulan, melakukan analisis dan memecahkan masalah
f) Guru memainkan peran penting dalam meningkatkan pemahaman dalam proses belajar (Nyanyu Khodijah 2006).

What do you think a bout

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s