RSS

EPISTEMOLOGI Induktivisme, Problem Induksi dan Ketergantungan Observasi Pada Teori

30 Oct

Disusun dan Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu : Prof. Dr. Mulyadi Eko Purnomo, M.Pd
Dr. Riswan Jaenuddin, M.Pd

Di Susun Oleh:

FITWI LUTHFIYAH
NIM : 20112513073

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
PASCA SARJANA UNIVERSITAS SRIWIJAYA PALEMBANG
2011-2012

A. Pendahuluan
Epistemologi adalah filsafat ilmu yang membahas tentang bagaiman cara memperoleh ilmu (metode-metode). Mengenai metode untuk memperoleh pengetahuan, ada beberapa pandangan yang dapat dikemukakan. Diantarnya jika obyek pengetahuan adalah benda fisik yang dapat diindera, maka metode mendapatkannya adalah seperti yang dikemukakan oleh Aristoteles, yakni metode empiris (pengalaman inderawi), kemudian metode ini dikembangkan oleh tokoh renaissance di Barat yaitu Francis Bacon (1561-1626) yang mengembangkannya menjadi metode induksi dan mensitematisasikan prosedur ilmiah (Ismail, 2007: 6). Dia mengkritik filsafat pengetahuan Yunani yang tidak mempunyai nilai praktis bagi manusia. Maka Bacon menegaskan (dalam Ismail, 2007:7) bahwa tujuan pengetahuan dengan menyatakan bahwa pengetahuan tidak berkembang dan bermakna kecuali jika mempunyai kekuatan untuk membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik. Dalam konteks metode Bacon berpendapat, tujuan pengetahuan adalah menundukkan alam dan memperbesar kekuasaan manusia. Alam dapat dikuasai dengan cara mentaatinya. Mentaati alam mengharuskan mengenal alam. Mengenal alam memerlukan langkah-langkah metodologis berupa: observasi, pengukuran, penjelasan, dan pembuktian.
Menurut Bacon logika tidak dapat digunakan untuk mendirikan dan membangun ilmu pengetahuan. Logika hanya melestarikan kesalahan dan kesesatan. Dia menolak transendensi filsafat. Maka Bacon adalah perintis aliran empirisme dan positivisme dalam epistemologi.
Metode observasi dan eksperimen yang menjadi kunci dalam epistemologi positivisme di atas dalam dunia pengetahuan sering disebut dengan metode ilmiah, yaitu cara berfikir manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan yang pasti dan benar, tentang alam dan diri sendiri dalam medan empiris. Metode ilmiah tersebut terdiri dari dua pendekatan, yaitu pendekatan deduktif dan pendekatan induktif.
Penalaran deduktif adalah suatu prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Sedangkan penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum.
Induktivisme dan empirisme sebagai aliran yang menggunakan landasan berpikir induktif adalah yang ingin dikaji karena kedudukannya yang sangat penting dalam metode ilmiah. Dalam studi-studi ilmiah yang dilakukan dengan teknik eksperimentasi, penggunaan metode induksi sangatlah menonjol dan memberi pengaruh yang kuat. Hasil penarikan kesimpulan sebagai salah satu bentuk kebenaran yang diperoleh dengan kajian ilmiah, sangat besar ditentukan oleh pemikiran empiris. Tidak jarang penarikan kesimpulan yang diambil dari suatu penelitian ilmiah mempunyai nilai kebenaran yang rendah, oleh karena hanya kesalahan dalam penggunaan metode induksi/empirisnya. Sebab itu kritik atau telaah terhadap kelemahan dalam metode induksi dimaksudkan untuk membangun kewaspadaan bagi para ilmuwan dalam menggunakan metode ilmiah.
Atas dasar itulah makalah ini mencoba mengungkapkan dan menganalisis fakta-fakta apa saja dalam induktivisme yang menjadi titik lemah atau keterbatasan metode tersebut dan mengapa hal-hal itu dapat terjadi. Selain itu, makalah ini memberikan beberapa solusi alternatif guna mencoba menjawab persoalan tersebut, sehingga paling tidak keterbatasan induktivisme dapat diminimalisasi.
Dari permasalahan yang telah diajukan, hipotesis yang dirumuskan adalah bahwa keterbatasan induktivisme dan empirisme dalam metode ilmiah dapat dikendalikan sehingga tidak menyebabkan terjadinya penarikan kesimpulan ilmiah yang salah secara signifikan. Hipotesis lain yang bisa juga dikemukakan adalah bahwa keterbatasan empirisme dan induktivisme sesungguhnya merupakan suatu peluang untuk menimbulkan keraguan terhadap kesimpulan ilmiah sehingga memungkinkan dikembangkannya lagi suatu pengkajian ulang terhadap kebenaran ilmiah tersebut.

B. Pengertian dan Tinjauan Historis
Induktivisme bagian dari empirisme yang sangat menghargai pengamatan empiris, ini sejalan dengan pendapat Socretes (dalam Ismail, 2007:8) tentang ciri-ciri metode dialetika: “… Empirisme dan Induktif, artinya segala sesuatu yang dibicarakan dan cara penyelesaiannya harus bersumber pada hal-hal yang empiris…”.
Pemikiran empirisme lahir sebagai suatu sanggahan terhadap aliran filsafat rasionalisme, yaitu yang mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan. Untuk lebih memahami filsafat empirisme kita perlu terlebih dahulu melihat dua ciri pendekatan empirisme, yaitu: pendekatan makna dan pendekatan pengetahuan. Pendekatan makna menekankan pada pengalaman; sedangkan, pendekatan pengetahuan menekankan pada kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan (observasi), atau yang diberi istilah dengan kebenaran a posteriori (Prasetya, 2002:199).
Para tokoh filsafat mengembangkan pemikiran empiris karena mereka tidak puas dengan cara mendapatkan pengetahuan sebagaimana dipercayai oleh aliran rasionalisme. Orang-orang rasionalisme dalam mencari kebenaran sangat menjunjung tinggi penalaran atau yang disebut dengan cara berpikir deduksi, yaitu pembuktian dengan menggunakan logika. Sebaliknya, bagi John Locke, berpikir deduksi relatif lebih rendah kedudukannya apabila dibandingkan dengan pengalaman indera dalam pengembangan pengetahuan. Locke sangat menentang pendapat mazhab rasionalisme yang menyatakan bahwa pengetahuan seseorang sudah dibawa sejak lahir. Menurut Locke, pikiran manusia ketika lahir hanyalah berupa suatu lembaran bersih (tabula rasa), yang padanya pengetahuan dapat ditulis melalui pengalaman-pengalaman inderawi. Lebih lanjut ia berpendapat bahwa semua fenomena dari pikiran kita yang disebut ide berasal dari pengamatan atau refleksi. Inilah tesis dasar dari empirisme. Dengan tesis inilah, Locke mempergunakannya sebagai titik tolak dalam ia menjelaskan perkembangan pikiran manusia (http://agathahanny.blogspot.com/2009/01/induktivisme-problem-induksi-dan.html).
Selain John Locke, Francis Bacon pada awal abad ke-17, beranggapan bahwa untuk mendapatkan kebenaran maka akal budi bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang khusus lalu berkembang kepada kesimpulan umum. Pemikiran Bacon yang demikian ini, kemudian melahirkan metode berpikir induksi (induktif).
Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Berkebalikan dengan penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memiliki konsep yang canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut data ditarik generalisasi dari suatu gejala. Dalam konteksi ini, teori bukanlah syarat mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat melakukan generalisasi.
Dalam induksi, tidak ada kesimpulan yang memiliki nilai kebenaran yang pasti. Yang ada hanyalah kesimpulan dengan probabilitas benar atau peluang kebenaran. Menurut Chalmer (1983), kondisi yang harus dipenuhi agar generalisasi atau kesimpulan dianggap benar dan sah oleh induktivis disebutkan sebagai berikut : makin besar jumlah observasi yang membentuk dasar induksi, makin besar variasi kondisi dimana observasi dilakukan, dan keterangan observasi yang sudah diterima tidak boleh bertentangan dengan hukum universal yang menjadi simpulannya. Namun kebenaran ilmu akan mundur menuju kearah probabilitas (Chalmers, 1983). Kebenaran yang bertumpu pada pola induksi adalah selalu dalam kemungkinan, dengan kata lain produk ilmu bersifat tentatif, ia benar sejauh belum ada data yang menunjukkan pengingkaran pada teori (http://agathahanny.blogspot.com/2009/01/induktivisme-problem-induksi-dan.html).
Dengan pemaparan tersebut, di pahami bahwa induktivisme merupakan bagian dari empirik dengan cara pandang atau cara mengetahui pengetahuan yang berdasarkan pengalaman. Adapun proses mendapatkan pengetahuan tersebut dengan menggunakan metode induksi, yaitu prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Kemunculan pemikiran ini adalah atas tidak adanya kesamaan pemahaman tentang sumber pengetahuan berasal dari akal, yaitu pemahaman dari kelompok rasionalisme.

C. Keterbatasan Induktivisme dan Problem Induksi
Keterbatasan induktivisme dalam perannya menyumbangkan pengetahuan melalui metode ilmiah dianalisis dari kritik-kritik yang diberikan terhadapnya. Penalaran induktif yang digunakan pada empirisme dan induktivisme bukan merupakan prediksi yang benar-benar akurat.
Apa yang diutarakan empirisme dalam penalaran induktif memang banyak terbukti dalam hidup. pengetahuan tentang dinginnya air, panasnya sinar, kerasnya batu, diperoleh setelah mengalami semua itu. Dan yang menjadi pertanyaan adalah, apakah setiap pengalaman selalu berakhir dengan pengetahuan? Mustahilkah munculnya pengetahuan tanpa pengalaman lebih dahulu? Apakah bisa terjadi bahwa pengetahuan yang semula konkrit khusus beralih menjadi pengetahuan abstrak umum?
Pengamatan (pengalaman) ternyata tidak memberikan sesuatu kepada subjek. Contoh ketika melihat bidang berkaki empat, kesadaran (pikiran) akan menyatakannya sebagai meja, bukan pengalaman itu sendiri. Tanpa pengamatan, benda memang tidak terlihat oleh subjek, tetapi pengalamannya memberikan kenyataan semu. Kalau memang benar pengalaman menghasilkan pengetahuan (pengalaman y membuahkan pengetahuan y), mengapa benda yang secara alami diubah sedemikian rupa menjadi bukan apa-apa lagi, tergambar dalam benak sebagai benda utuh.
Aliran empirisme menggeneralisasikan sesuatu yang individual. Pada saat seseorang menemukan hal yang serupa dia akan menganalogikannya sesuai dengan pengalamannya di masa lampau. Kekeliruan empirisme adalah menerapkan cara berfikir yang benar pada sebagian pengetahuan, untuk semua pengetahuan. Sebab tidak semua pengetahuan bersumber pada pengalaman. Bagi geometri (ilmu ukur) misalnya, pengalaman tak punya arti, sebab pokok disini terletak pada aksioma, yaitu pokok yang dipikir lebih dahulu serta yang dianggap benar dan sah.
Lebih rinci lagi keterbatasan induktivisme ini, menimbulkan kritikan seperti yang diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) dengan menyimpulkannya dalam tiga bagian, yaitu:
1) Pengalaman yang merupakan dasar utama induktivisme seringkali tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif.
2) Dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat bergantung pada persepsi pancaindera. Pegangan induktivisme yang demikian menimbulkan bentuk kelemahan lain. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan. Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap dapat saja keliru dan menyesatkan.
3) Induktivisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan dalam induktivisme dan empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan harus diuji terlebih dahulu. (http://agathahanny.blogspot.com/2009/01/induktivisme-problem-induksi-dan.html).

Penalaran induktif yang digunakan pada empirisme dan induktivisme bukan merupakan prediksi yang benar-benar akurat. Induktif bisa dihasilkan karena pengulangan-pengulangan secara terus menerus. Tetapi berapa pun banyaknya observasi/pengamatan, tetap saja generalisasi yang didapat sukar dibuktikan atau salah.
Meskipun metode penalaran induktif bisa saja menghasilkan kesimpulan yang salah, namun setidaknya kesimpulan yang diperoleh itu beralasan. Sehingga kita tidak dapat mengatakan induksi sebagai suatu kesalahan karena untuk melakukan perkiraan atau asumsi dengan induksi adalah valid. Memang benar kita tidak dapat memastikan bahwa suatu teori/hipotesa melaui induksi itu benar, namun kita dapat memastikan bahwa teori/hipotesa itu belum salah. Inilah landasan berpikir saintifik. Selama masih belum ditemukan kesalahan teori/hipotesa itu, maka teori/hipotesa itu akan selalu dianggap benar. Dengan demikian induksi memungkinkan berkembangnya konsep dasar suatu ilmu.
Telaah terhadap kritik yang ditujukan kepada empirisme dan induktivisme tidak dimaksudkan untuk menimbulkan keraguan tentang peranan induksi dalam pembentukan pengetahuan melalui metode ilmiah. Kritik ini haruslah dipandang sebagai acuan dalam mencari solusi alternatif mengatasi kelemahan-kelemahan dalam induksi. Penggunaan pancaindera yang memiliki keterbatasan harus dibantu dengan teknologi yang sempurna untuk menyempurnakan pengamatan. Metode-metode eksperimen yang dijalankan harus ditetapkan secara benar sehingga bias karena keterbatasan pengamatan manusia dapat diminimalisasikan.
Pengalaman-pengalaman yang dibangun sebagai dasar kebenaran juga harus didukung dengan teori-teori yang relevan. Bergantung pada pengalaman pribadi saja bisa menimbulkan subyektivitas yang tinggi. Oleh sebab itu kajian terhadap pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada sebelumnya harus dilakukan sehingga kebenaran yang ingin didapatkan memiliki sifat obyektivitas yang tinggi. Pengetahuan tidak semata-mata mulai dari pengalaman saja, tetapi ia harus menjelaskan dirinya dengan pengalaman-pengalaman itu.
Dari sudut pandang yang lain, kritik terhadap induksi perlu juga dipahami sebagai kritik terhadap ilmu pengetahuan. Dengan adanya keterbatasan dalam induksi sebagai salah satu prosedur dari metode ilmiah, memberi gambaran kepada kita bahwa kebenaran dalam ilmu pengetahuan bukanlah satu-satunya kebenaran yang ada. Tetapi sebagai ilmuwan, kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa di luar ilmu pengetahuan masih terdapat kebenaran lain. Dengan demikian, kebenaran ilmu pengetahuan tidak bisa berjalan sendiri, tetapi didalam membangun keharmonisan dan keseimbangan hidup, kebenaran ilmu pengetahuan perlu berdampingan dengan kebenaran-kebenaran dari pengetahuan lain, seperti seni, etika dan agama. Pengetahuan-pengetahuan lain di luar ilmu pengetahuan ilmiah perlu dipahami pula dengan baik oleh para ilmuwan agar dapat menciptakan atau menghasilkan nuansa yang lebih dinamis pada pengetahuan ilmiah. Kebenaran ilmu juga memiliki sifat probabel, tentatif, evolutif, relatif dan tidak pernah sempurna, hal ini terjadi karena ilmu diusahakan oleh manusia dan komunitas sosialnya yang selalu berkembang kemampuan akal budinya.

D. Ketergantungan Observasi pada Teori
Ada dua asumsi penting dalam pandangan induktivisme naif tentang observasi. Pertama, bahwa ilmu bertolak dari observasi. Kedua, bahwa observasi menghasilkan landasan yang kukuh dan dari situ pengetahuan dapat ditarik. Pengamatan ilmiah harus memiliki organ indera dan instrumen yang benar dan baik. Dua hal yang ditekankan pada observasi melalui penglihatan menurut induktivis, yaitu pengamatan dapat menangkap langsung sifat dari dunia luar selama sifat itu terekam oleh otaknya dari tindakan melihat. Yang kedua, dua pengamat normal memandang objek yang sama dari tempat yang sama akan melihat hal yang sama pula.
Namun ternyata, kenyataannya tidak demikian. Pengalaman dua pengamat ketika memandang satu objek yang sama dari tempat yang sama dalam keadaan fisik yang sama tidak harus mendapatkan pengalaman visual yang sama, walau hakikat gambar yang diterima retina mata sama.
Untuk memantapkan validitas suatu keterangan observasi memerlukan pertolongan teori. Makin mantap validitasnya, makin ekstensif pengetahuan teori yang digunakan. Hal ini jelas berlawanan dengan apa yang kita harapkan dari induktivis, yakni untuk mengukuhkan keterangan observasi, perlu keterangan observasi yang terjamin dan mungkin hukum-hukum dapat ditarik secara induksi dari situ, bukan pada teori. Demikian juga saat melakukan suatu eksperimen, kadang kita memerlukan atau dipancing teori yang didapat dari penelitian.
Ketergantungan observasi pada teori yang telah dibicarakan ini, menyudutkan para induktivis naif. Namun para induktivis modern mulai mau memodifikasi pandangannya. Jangkauan observasi empiris manusia yang terbatas sifatnya, membuat observasi perlu diperkuat, dilengkapi dan ditunjang dengan penggunaan sarana yang baik, pengandaian teoritis dan kemampuan merumuskan hasil observasi secara logis rasional. Oleh karena itu, kedua metode penalaran deduktif dan induktif, yang seolah-olah merupakan cara berpikir yang berbeda dan terpisah, tetapi dalam prakteknya, antara berangkat dari teori atau berangkat dari fakta empirik merupakan lingkaran yang tidak terpisahkan.
Kalau kita berbicara teori sebenarnya kita sedang mengandaikan fakta dan kalau berbicara fakta maka kita sedang mengandaikan teori. Dengan demikian, untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah kedua penalaran tersebut dapat digunakan secara bersama-sama dan saling mengisi, dan dilaksanakan dalam suatu ujud penelitian ilmiah yang menggunakan metode ilmiah dan taat pada hukum-hukum logika.

E. Induktivisme Francis Bacon
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa metode empiris yang dikemukakan oleh Aristoteles, oleh Francis Bacon (1561-1626) di kembangkannya menjadi metode induksi.
Teori induktif Bacon lahir sebagai jawaban atas kelemahan dari teori deduksi yang sebelumnya sering dipakai oleh Arisototelis. Bacon, walaupun benar-benar menerima teori prosedur ilmiah Aristoteles, di sisi lain ia mengkritik tajam terhadap cara dari prosedur ini diambil. Dalam teori induktifnya Bacon mempermasalahkan tiga indikasi: pertama, Aristoteles dan pengikutnya mempraktekan koleksi data yang tidak kritis. Dalam hubungan ini Francis Bacon sangat menekankan nilai dari peralatan (instruments) ilmiah dalam pengumpulan data. Kedua, Aristotelis cenderung menjeneralisasikan dengan terlalu terburu-buru. Dengan memberikan sedikit observasi-observasi, mereka juga menggunakan prinsip-prinsip tersebut untuk mendeduksi scope yang lebih sedikit. Ketiga, Aristoteles dan pengikutnya memberlakukan induksi dengan penghitungan yang sederhana, yang mana hubungan-hubungan dari sifat-sifat tersebut ditemukan untuk mempertahankan beberapa individu-individu dari sebuah tipe yang diberikan, dinyatakan sebagai pegangan bagi keseluruhan individu dengan tipe tersebut. Namun, dalam praktiknya hal ini sering menghantarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang salah, di mana hal-hal yang negatif tidak diambil sebagai catatan (http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html).
Francis Bacon, menggunakan metode induktif sebagai akibat ketidak puasannya terhadap metode deduktif Aristoteles. Dalan teori pengetahuan ilmiah moderen Bacon dikenal sebagai seorang sosok yang kontroversial. Bahkan menurut para pendiri masyarakat moderen, dia dianggap seorang nabi dalam sebuah metodologi ilmiah yang baru. Bacon adalah seorang filosuf yang selalu berinovasi. Seorang inovator sekaligus seorang juara terkait dengan metode percobaan induktifnya yang terkenal. Ia mengkritisi metode Aristoteles yang beraliran deduktif. Dalam penggunaan metodenya Bacon sangat menekankan pada induksi-empiristik dan menjadikan metode ini sebagai satu-satunya metode ilmiah yang sah dalam pengembangan ilmu. Ia menulis Novum Organum (Metode baru) sebagai tandingan terhadap logika Aristoteles yang terdapat dalam karya Organom. Pemikirannya tentang ilmu pengetahuan sangat terkenal pragmatis fungsional. Menurutnya ilmu hanya bermakna jika dapat diterapkan secara praktis. Nasr menulis: “Bacon berperan penting dalam mempopulerkan sains baru yang lebih berperan sebagai pencarian kekuasaan yang mendominasi alam (power to dominate nature) daripada memahami alam sehingga berakibat pada pemaksaan alam untuk melayani kepentingan manusia.”
Merujuk pada pernyataan David Hume bahwa argumentasi yang bersifat induktif bersandar pada suatu keaneka ragaman, kebiasaan dan pengalaman, hal ini sesuai dengan apa yang menjadi stressing point Francis Bacon dengan menekankan aspek eksperimen sebagai hal penting untuk menaklukan alam dengan rahasianya (to torture nature for her secrets). Dalam hal ini Bacon menyebutnya sebagai komposisi sejarah alamiah dan eksperimental (the composition of a natural anda experimental history). Menurutnya, eksperimen sangat penting karena jika kita dengan sederhana mengamati tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita, maka kita dibatasi dalam data-data yang kita kumpulkan; ketika kita menampilkan sebuah percobaan kita mengendalikan keadaan pengamatan sejauh mungkin dan memanipulasi keadaan dari percobaan untuk melihat apa yang terjadi dalam lingkungan-lingkungan di mana hal sebaliknya tidak pernah terjadi. Eksperimen memungkinkan kita untuk menanyakan “apa yang terjadi jika …?”. Bacon menyatakan bahwa dengan mengadakan percobaan-percobaan kita mampu menaklukan alam dan rahasianya. Satu hal yang terpenting adalah bahwa ‘banyak hal-hal’ yang terpelihara/ terjaga. Jadi, apa yang orang-orang perlu pelajari dari alam ini ialah bagaimana menggunakannya secara penuh untuk mendominasi dengan keseluruhan alam tersebut dan juga atas orang lain (http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html).
Berdasarkan pemikirannya tersebut, Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang diteliti dan telaten mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan metode induksi, Bacon mengemukakan ada dua cara yang harus dilakukan, yaitu:
1) Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular, kemudian mengungkapnya secara umum.
2) Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan.

Selanjutnya Bacon (dalam Komara, 2011:76) mempertegas variasi kondisi untuk mencapai hakikat induktif, yaitu :
1) Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri positif, yaitu pencatatan mengenai apa yang terjadi dalam suatu kondisi,
2) Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri negatif, yaitu pencatatan kondisi suatu kejadian tang tidak timbul, dan
3) Tabulasi pencatatan variasi kondisi, yaitu pencatatan ada tidaknya perubahan ciri-ciri pada kondisi yang berubah-ubah.

Bacon (dalam Hardiman, 2004: 29) juga menyarankan untuk menghindari metode induksi yang keliru, maka harus menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir, idola-idola tersebut yaitu:
1) Idola tribus (bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. Idola ini menawan pikiran orang banyak, sehingga menjadi prasangka yang kolektif.
2) Idola cave (cave/specus = gua), maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia obyektif dikaburkan.
3) Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji.
4) Idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini, sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subyektif dari para filosofnya. Sistem ini dipentaskan, lalu tamat seperti sebuah teater.
Idola-idola di atas tergambar seperti berikut ini (Hardiman, 29):

Gambar. 1. Idola-Idola
Apabila seorang ilmuan sudah luput dari semua idola itu, mereka sudah mampu melakukan penafsiran atas alam melalui induksi secara tepat. Induksi tidak boleh berhenti pada taraf laporan semata, karena ciri khas induksi ialah menemukan dasar inti (formale) yang melampaui data-data partikular, berapapun besar jumlahnya. Dalam hal ini, pertama yang perlu dikumpulkan data heterogen tentang sesuatu hal. Kemudian urutannya akan nampak dengan jelas, yang paling awal adalah peristiwa konkrit partikular yang sebenarnya terjadi (menyangkut proses atau kausa efisien), kemudian suatu hal yang lebih umum sifatnya (menyangkut skema, atau kausa materialnya), baru akan ditemukan dasar inti. Dalam hal dasar inti ini, pertama-tama ditemukan dasar inti yang masih bersifat partikular, yang keabsahannya perlu diperiksa secara deduksi. Jika yang ini sudah cukup handal, barulah boleh terus maju menemukan dasar inti yang semakin umum dan luas. Bagi Bacon, begitulah langkah-langkah induksi yang tepat.

F. Kesimpulan
Pemaparan-pemaparan tersebut di atas, dapat dipahami bahwa dalam Epistemologi terdapat aliran paham induktivisme yang terdapat di dalam aliran empirisme. Yaitu, aliran yang sangat menghargai pengamatan empiris (pengalaman). Pengetahuan menurut aliran ini memahami bahwa di dapatkan dengan cara pengamatan (pengalaman) dan untuk mendapatkannya dengan mentode induksi, yaitu penalaran dengan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum.
Keterbatasan induktivisme dalam perannya menyumbangkan pengetahuan melalui metode ilmiah dianalisis dari kritik-kritik yang diberikan terhadapnya. diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) kritikan terhadap induktivisme ini, yaitu:
1) Pengalaman yang merupakan dasar utama induktivisme seringkali tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif.
2) Dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat bergantung pada persepsi pancaindera. Pegangan induktivisme yang demikian menimbulkan bentuk kelemahan lain. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan. Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap dapat saja keliru dan menyesatkan.
3) Induktivisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan dalam induktivisme dan empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan harus diuji terlebih dahulu.

Induktivisme Francis Bacon, menurutnya ada dua cara yang harus dilakukan, yaitu:
1) Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular, kemudian mengungkapnya secara umum.
2) Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan.
Bacon juga mempertegas variasi kondisi untuk mencapai hakikat induktif, yaitu :
1) Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri positif, yaitu pencatatan mengenai apa yang terjadi dalam suatu kondisi,
2) Tabulasi atau pencatatan ciri-ciri negatif, yaitu pencatatan kondisi suatu kejadian tang tidak timbul, dan
3) Tabulasi pencatatan variasi kondisi, yaitu pencatatan ada tidaknya perubahan ciri-ciri pada kondisi yang berubah-ubah.

Kemudian Bacon juga menyarankan untuk menghindari metode induksi yang keliru, maka harus menghindari empat macam idola atau rintangan dalam berpikir, idola-idola tersebut yaitu:
5) Idola tribus (bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. Idola ini menawan pikiran orang banyak, sehingga menjadi prasangka yang kolektif.
6) Idola cave (cave/specus = gua), maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia obyektif dikaburkan.
7) Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji.
8) Idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini, sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subyektif dari para filosofnya. Sistem ini dipentaskan, lalu tamat seperti sebuah teater.

Daftar Pustaka

Hardiman, Budi. 2004. Filsafat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche Suatu Pengantar dengan Teks dan Gambar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ismail. 2007. Epitemologi Pendidikan Islam (Melacak Relasi Ilmu dan Pendidikan). Palembang: Pusat Penelitian IAIN Raden Fatah Press.

Komara, Endang. 2011. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Bandung: PT. Refika Aditma.

Prasetya. 2002. Filsafat Pendidikan Untuk IAIN, STAIN, PTAIS. Bandung: Pustaka Setia.

————Download di http://agathahanny.blogspot.com/2009/01/induktivisme-problem-induksi-dan.html. Diakses Tanggal 23 Oktober 2011.

———–Download di http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html. Diakses Tanggal 28 Oktober 2011.

 
2 Comments

Posted by on 30 October 2011 in Uncategorized

 

2 responses to “EPISTEMOLOGI Induktivisme, Problem Induksi dan Ketergantungan Observasi Pada Teori

  1. putri

    3 September 2013 at 12:05

    mb aq jg mahasiswa unsri smstr 1, skrg lg bljr filsafat, ada yg ingin aq tanyain,,,mintak no kontak ny bisa?

     

Apa Komenmu ^_^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: